Sejak
SD kelas lima hingga saat ini libur semester pertama kelas tiga SMA,
keinginannya untuk dapat pergi ke kota Pontianak belum dapat dicapainya. Ekonomi
dan jarak kendalanya.
Rumah
Duta terletak di atas sungai kapuas, sehingga sangat sulit untuk ke kota. Jauh
dari daratan, tak punya kendaraan darat juga jadi permasalahan. Apalagi ayahnya
hanya seorang nelayan. Ia hanya duduk santai sambil menghayal. Depan rumahnya
hanya ada jalan papan yang saat ini didudukinya, yang menghubungkan satu rumah
ke rumah lain di sekitar sana. Tak ada jalan raya, tak ada sepeda. Apalagi
mobil, sudah pasti tidak ada.
Sekarang
anak-anak sedang mandi, ibu-ibu mencuci dan para bapak menyiapkan sampan untuk
bekerja sebagai nelayan. Waktu memang sudah sore. Namun Duta masih di posisinya
melihat bangunan kota yang jauh di sana, dengan pandangan penuh harapan. Tersadar
olehnya, “aku bukan siapa-siapa!” tapi bukan berarti ia menyerah. Ia akan tetap
bersusaha.
“Duta...
sudah mau malam. Ikan yang dijemur itu cepat dibawa masuk.”
“Iya,
Bu.” Duta segera melakukan perintah ibunya. Hamparan ikan-kan kecil di atas
terpal ditumpuk lalu di bawa masuk. Memang itu sudah menjadi rutinitas
hariannya jika sedang tidak turun hujan. Ikan-ikan kecil itu adalah hasil kerja
ayahnya sebagai nelayan.
***
“Duta..
panggil ayahmu. Makan malamnya sudah siap,” teriak pelan ibu dari dapur.
“Iya,
Bu.” Duta berhenti baca buku dan membereskan buku-buku disekitarnya. Memang,
meskipun sekarang masih waktu liburan, bagi Duta baca buku dan belajar tak ada
kata libur, apalagi ia akan masuk semester dua kelas tiga yang berarti ia akan
menghadapi ujian nasional. Duta bergegas keluar rumah memanggil ayahnya yang
sedang melakukan entah apa di sampan tua kesayangannya.
“Yah,
dipanggil ibu. Makan.”
“Iya,
sebentar. Duluan saja.”
Duta
tak menjawab lagi. Ia langsung masuk, menuju di mana makanan dihidangkan.
“Bu,
ayah sebentar lagi katanya,” jelas Duta pada ibunya.
“Ya
sudah, kamu duluan saja. Biar ibu menunggu ayahmu.”
Duta
pun makan duluan. Di hadapannya ada nasi dan tiga jenis lauk dari ikan. Ikan
goreng, ikan yang dagingnya di cabik-cabik dan disambal serta ikan masak kuah, semua
serba ikan. Memang itu lauk yang sudah tak asing bagi Duta. Ia lahap saja
memakannya. Tak lama, ibu dan ayah menghampirinya juga ikut makan. Mereka duduk
membentuk lingkaran.
Awalnya
tak ada pembicaraan saat makan, sang ayah membuka pembicaraan dengan
membicarakan tentang menurunnya harga ikan. Tak lama, Duta lalu memotong
pembicaraan.
“Bu,
Yah, kapan Duta diajak ke kota?”
Ayahnya
diam sejenak. Ibunya cepat-cepat menghabiskan makanan yang memang tinggal
sedikit. “Ibu mau ke belakang,” ucap ibu langsung pergi ke dapur tak tahu
kenapa. Duta tampak bingung, “Ada apa? Seperti ada yang berbeda.” Ibunya tampak
termenung di dapur.
Ayahnya
tersenyum. “Nanti kamu akan sampai ke kota. Kamu sabar saja. Ayah kan masih cari
uang,” jelasnya lembut pada Duta.
“Tapi
sampai kapan? Ayah selalu bilang begitu. Ayah hanya janji. Duta ingin sekali ke
kota, Yah. Teman-teman Duta semuanya sudah sering ke sana,” rungut Duta.
“Ayah
kan tidak diam. Ayah masih berusaha,” Suara ayahnya agak naik.
Senyum
sang ayah hilang dengan wajah tampak menyesal. Duta pun tersadar dengan keadaan
keluarganya saat ini. “Maaf, Yah. Besok Duta akan ikut ayah kerja, bantu ayah.”
Ayahnya
mengangguk. Mungkin ayah kecewa pada dirinya sendiri. Tampaknya ia ingin sekali
minta maaf pada Duta. Namun ia tak mampu mengucapkannya. Ibu datang membawa air
dalam ceret serta dua gelas plastik. “Sudah selesai kamannya? ini minumnya,”
ucap ibu lalu meletakkan di lantai. Semua sudah selesai makan.
***
Angin
yang berhembus sangat sejuk terasa, sehingga Duta menarik selimut dan menutupi
seluruh tubuhnya. Rasa nyaman itu seolah membuat ia manja di atas tempat
tidurnya yang tanpa ranjang, hanya kasur yang terletak di lantai.
Semakin
lama semakin melengkung tubuh Duta merasa udara yang aduhai dinginnya. Hening
subuh itu terpecahkan oleh suara ombak yang cukup kencang terdengar, hingga ia
tak nyenyak tidur. Namun lebih dipecahkan lagi oleh suara ibu yang
memanggilnya.
“Duta...!!!”
Duta
hanya menjawab, “Mmm..?!!” Namun ia
masih dalam selimut. Ia tak bergerak.
“Kamu
bilang mau ikut ayahmu hari ini, cepat.... ayahmu sudah mau berangkat!”
“Hmm,” gumam Duta masih dalam selimutnya.
Hati kecilnya berkata, “Seandainya yang ibu maksud ikut ayah adalah untuk
berangkat ke kota mengisi liburanku!.” Hati kecilnya menjawab lagi, “Ahk, tak mungkin itu terjadi sekarang karena
kenyataannya yang ibu maksud adalah untuk ikut ayah berangkat bekerja.”
Langkah
kaki ibu terdengar mendekatinya, hendak menariknya untuk bangun agar bisa
segera menyusul ayah yang sudah menunggunya di sampan, di luar sana. Namun,
baru saja tangan ibu menyentuhnya dari luar selimut, ibu merasakan panasnya
tubuh Duta yang melengkung kedinginan dan menggigil. Ibu pun tersontak kaget.
“Duta,
kamu sakit? Badanmu panas!”
Duta
tak menjawab, ia masih menggigil dalam selimutnya.
“Ya
sudah, kamu istirahat saja. Biar ibu bilang ke ayahmu kalau kamu tidak bisa
ikut. Lagi pula masih ada Pak Lan. Biasa juga ayahmu berdua saja. Ya sudah!”
Ibu Duta lalu keluar rumah menuju ayah Duta di sampan dan menyampaikan kalau
Duta sakit dan jangan ikut kerja dulu.
Pagi
telah tiba. Sinarnya sudah masuk melalui ventilasi rumah.
Seharusnya
saat ini Duta berada di sungai, di atas sampan bersama ayahnya karena hari-hari
dan liburan-liburan sebelumnya juga itu yang dilakukannya. Tapi hari ini ia
sakit demam. Tubuhnya panas dan semakin panas.
Ibu
menghampirinya, membawakannya semangkuk bubur ikan. Memang hanya bubur ikan
yang bisa ibu siapkan. Jika ingin membuat bubur ayam, ibu harus jauh ke darat,
ke pasar membeli ayam. Makanya ibu pilih yang mudah saja, lagi pula ibu rasa
sama saja. Kalaupun berbeda, ya, tidak jauh berbeda.
Duta
melawan rasa lemah yang semakin bertambah lemah pada tubuhnya. Ia bangun dan
mendudukkan tubuhnya. Lalu mengambil semangkuk bubur ikan dari ibu dan
memakannya. Satu, dua, tiga, hingga lima sendok ia makan. Ia berhenti lalu
minum.
“Kalau
sakit begini, bagaimana aku bisa cari uang untuk ke kota!” serunya dalam hati.
Ia tampak yakin bahwa liburan kali ini ia akan pergi ke kota, menikmati suasana
yang selama ini diidam-idamkannya. Ketika itu juga ia memutuskan kalau hari ini
ia harus sembuh agar bisa bantu ayahnya mencari dan mengumpulkan uang lebih
banyak. Sebab setahunya, di kota itu serba mahal. Meskipun ia bukan mau
befoya-foya di sana. Ia hanya ingin lihat langsung kota yang selama ini
menghantuinya, kota yang katanya begitu, begini, entah bagaimana sebenarnya
yang dimaksud oleh teman-teman sekolahnya.
***
Hari
berikutnya tiba. Pagi tadi sungguh cerah. Menjelang siang ini sinar mentari sungguh
sangat teriknya. Di atas sampan di sungai, Duta dan ayahnya mendekati rumah dengan
ayahnya yang mengemudikannya.
Memang
sejak subuh tadi Duta memutuskan untuk ikut dengan ayahnya. Meskipun tubuhnya
belum enakan, panas tubuhnya masih sedikit terasa, ia tetap bersikeras untuk
ikut ayahnya karena ia berharap dengan ia ikut ayahnya bisa mendapatkan hasil
yang lebih dari biasanya. Ayahnya lalu mematikan mesin sampan yang diarahkan mendekat
ke depan rumah.
“Bu...!!!”
teriak Duta yang masih di atas sampan bersama ayahnya.
Duta
bergegas turun dari sampan. Ia menuju ke rumah. Belum masuk ke rumah, ibunya
keluar memenuhi teriakannya.
“Iya,
kenapa teriak-teriak?” tanya ibu dengan wajah cemas karena setahunya Duta
anaknya itu sedang sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan Duta.
Namun
dugaan ibu salah, Duta malah tersenyum dengan wajah senangnya. Ibu melihat ke arah
Ayah Duta, suaminya, yang melihat ke arahnya menampakkan raut wajah yang
bingung. Ibu jadi bingung, “Ada apa?” tanyanya pada Duta.
“Bu,
hari ini dapat ikan banyak. Ikan Betutu besar dapat tiga, udang A dapat dua,
yang B dapat empat. Semua sudah di jual. Uangnya lumayan banyak, lho!”
Ibu
mulai paham kalau Duta sangat yakin bahwa liburan kali ini ia benar-benar akan
pergi ke kota, ya dengan uang itu. Wajah ayah yang bingung juga ibu paham,
sebab penghasilan yang lebih hari ini bukan berarti lebih, masih banyak
kebutuhan yang harus dipenuhi. Ibu hanya tersenyum dan mengucap “Syukurlah,”
dan Duta kembali ke sampan membantu ayahnya. Duta senang sekali nampaknya.
***
Hari
berikutnya. Ibu keluar rumah dengan pakaian biasa. Namun lebih rapi dari yang
biasa. “Yah, ibu ke warung dulu, ya. Mau beli sayur,” pamit ibu pada suaminya.
“Iya,”
jawab suaminya.
“Tidak
keawalan, Bu?” tanya Duta yang juga ada di situ.
“Harus
awal dong, nanti sayurnya habis jika
telat perginya,” jawab ibu langsung berjalan di atas jalan papan meninggalkan
rumah.
Hari
ini Duta dan ayahnya memang tidak pergi karena sampan mereka ada yang bocor,
sehingga inisiatif dari ayah untuk memperbaikinya hari ini, agar besok atau
lusa bisa kembali kerja. Duta dan ayahnya mengangkat sampan yang tidak besar
itu ke pinggir jalan papan depan rumahnya, lalu ditelungkupkan agar bisa
menampal bagian yang bocor.
Bagi
seorang nelayan sebenarnya tidak ada libur, karena memang tidak ada jadwal
seperti pegawai negeri. Makanya hari ini ibu ingin buat sarapan pagi yang
spesial dengan tidak hanya menggunakan ikan, tapi juga ada sayur atau yang
lain.
Sekitar
sepuluh menit berjalan kaki di atas jalan papan ke arah daratan, ibu pun sampai
di warung yang masih di atas sungai. Memang warung di atas sungai ini hanya ada
satu. Jika ingin ke warung lain harus berjalan lebih jauh lagi karena warung
lainnya ada di darat sana.
“Bu
Ida!” sapa Ibu Duta kepada penjaga warung yang memang kenal akrab dengannya.
“Eh,
ibu, mau beli apa? Silahkan!” jawab Bu Ida, pemilik warung itu.
Setelah
itu terjadilah perbincangan antara Ibu Duta dan Bu Ida yang panjang lebar
sambil Ibu Duta memilah-milih apa-apa yang ingin ia beli. Akhirnya sampailah
pada pembicaraan Bu Ida yang ingin belanja ke kota.
“Telurnya
ada, Bu?” tanya Ibu Duta kepada Bu Ida.
“Maaf,
lagi kosong. Sebenarnya sabtu besok saya mau ke kota, belanja. Tapi saya gak enak badan, padahal sudah jadwal
seminggu sekali. Tidak mungkin suami saya pergi sendiri. Siapa yang mau bantu
pegang barang-barang?!” jelas Bu Ida. “Kalau dari sini ke kota harus pergi pagi
dan pulangnya siang. Tidak mampu saya kalau sedang sakit begini. Demam dari
kemaren belum hilang juga,” sambungnya.
Ibu
Duta sedikit tersentak mendengar ucapan Bu Ida. “Oh.. begitu..”
Ingin
sekali Ibu mengatakan kalau anaknya Duta pasti mau jika diajak ke kota. Tapi,
masalahnya Duta ingin keliling kota, bukan hanya ke pasar agen. Ibu termenung
seketika. Kemudian ibu sadar dan membayar belanjaannya dan bergegas pulang.
Entah apa yang ia pikirkan. “Pulang ya, Bu.”
“Iya,
terima kasih,” jawab Bu Ida.
“Sama-sama.”
Ibu mulai melangkah dan terus melangkah dan sekarang sekitar 20 meter lagi ibu sampai
ke rumah. Ia melihat suami dan Duta anaknya masih mengurusi sampan. Dilihatnya
juga wajah Duta yang tampak bersemangat dan bersungguh-sungguh. Ia tidak tega
jika keinginan anaknya itu kembali tertunda untuk waktu yang begitu lama.
Sampai
di rumah, ibu langsung masuk ke rumah, menyimpan belanjaan di dapur. Tiba-tiba
dari dapur ibu meneriaki Duta. “Duta... kesini sebentar!”
Duta
yang berada di luar sana tampak tak mendengar. Namun ayahnya mendengar. Sekali
lagi ibu berteriak seperti tadi, ayah mendengar lebih jelas lagi.
“Duta,
dipanggil ibumu, tu!” seru ayah pada
Duta.
Untuk
yang ketiga kalinya ibu berteriak seperti yang pertama. Yang ketiga kalinya ini
Duta mendengarnya. Duta segera berlari kecil masuk ke rumah, menghampiri
ibunya.
“Ada
apa, Bu?”
“Ini,
ibu ingin segera masak, tapi ibu lupa beli garam. Ibu kira masih ada, sudah
habis ternyata. Bisa bantu ibu pergi ke warung sebentar kan? Ini uangnya...”
Ibu
memberi Duta uang untuk membeli garam. Duta mengambilnya dan bergegas pergi.
Duta tidak terlalu tergesa-gesa alias santai saja berjalan di atas jalan papan.
Terus berjalan melewati satu rumah ke rumah berikutnya. Ia juga melirik ke arah
sungai yang luas yang tak bisa dipungkiri sangat ia cintai. Itulah sungai
kapuas. Sambil berjalan pelan, ia menyanyikan lirik demi lirik lagu sungai
kapuas yang ia sangat hafal.
Hey..
sampan laju, sampan laju dari hilir sampai ke hulu
Sungai
kapuas, sungguh panjang dari dolok membelah kote
Hey..
tak disangke, tak disangke dolok utan menjadi kote
Ramai
pendudoknye, pontianak name kotenye
Sungai kapuas punye cerite,
Bile kite minom aeknye
Biarpon pegi jaoh kemane
Sungguh susah nak melupakkannye
Hey.. kapuas... hey.. kapuas.
Berakhir
lagu yang sangat asik ia nyanyikan, terhenti juga langkah kakinya. Ia sudah
sampai di depan warung. Di warung masih ada Bu Ida. Tanpa basa-basi, Duta
langsung membeli garam. “Bu Ida, beli garam, Bu?”
“Oh,
berapa bungkus?.”
“Satu
saja.”
Bu
Ida mengambil sebungkus garam, memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam dan
memberikannya kepada Duta. Duta pun mengambilnya lalu membayar dengan uang pas seribu
rupiah.
“Tadi
kan ibumu sudah kemari, belanja. Ibumu lupa ya?”
“Iya,
habisnya ibu buru-buru katanya. Kalau begitu saya pulang dulu, ya, Bu.”
Duta
berbalik badan dan mulai melangkah, satu langkah, dua langkah. “Duta!” ada
suara memanggilnya. Suara itu dari arah belakangnya, tapi menurutnya itu bukan
suara Bu Ida. Duta berbalik badan. Dilihatnya ada Pak Adi. Ya, memang Pak Adi
yang memanggilnya tadi.
“Duta,
kamu mau ikut bapak ke kota besok? Tapi pulangnya agak sore. Nanti bapak ajak
kamu jalan-jalan dulu deh. Soalnya istri
saya kan lagi sakit, barang warung sudah pada kosong. Bagaimana?”
“Wah, mau, Pak, saya mau.”
“Kalau
begitu, besok pagi kamu ke sini. Sepeda motor bapak ada di darat sana.”
“Iya.
Kalau begitu saya pulang dulu, ya. Terima kasih.”
Kebahagaian
sangat terpancar dari wajah Duta, senyum lebarnya dan ia berjalan cepat menuju
rumahnya. Begitu bahagianya Duta mendapatkan kesempatan yang sudah
bertahun-tahun dinantikannya.
Sesampainya
di rumah, Duta membagikan kebahagiaannya pada ayah dan ibunya. Duta melihat
kedua orang tuanya tampak senang mendengar ceritanya. Namun, di belakangnya
tampak kekhawartiran dari kedua orang tuanya itu. Dari pagi itu, siang, sampai
malamnya Duta terbayang-bayang bagaimana kota Pontianak yang ia akan ke sana.
Bangunan sekolah, gedung-gedung perusahaan dan semua yang akan ia pandang.
Bahagaianya luar biasa.
***
Hari
yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Matahari belum nampak sinarnya, tapi Duta sudah
rapi untuk segera pergi. Kebetulan subuh itu ayahnya juga siap untuk pergi
bekerja. Ayahnya akan bekerja dengan Pak
Lan, seperti biasa dan kali ini pun menggunakan sampan Pak Lan. Sebelum ayahnya berangkat, Duta
menghadap ayahnya.
“Yah,
uang kemaren masih ada, kan? Duta mau bawa, barangkali perlu.”
Ayah
terdiam sejenak. “Duta, ayah minta maaf kalau kali ini tidak bisa bantu kamu.
Uang kemaren sudah untuk bayar hutang,” jelas ayahnya. “Tapi, masih ada sepuluh
ribu ni, bawa saja.”
Duta
tertegun. Ayanya hanya punya uang sepuluh ribu rupiah. Ia jadi tidak enak
mengambilnya. “Tidak usah saja, Yah. Duta kan hanya lihat-lihat, jadi tidak
bawa uang juga tidak apa-apa.”
“Kamu
yakin?” tanya ayahnya. Duta mengangguk. “Kalau begitu ayah pergi dulu, ya,
pasti ayah sudah ditunggu. Kamu hati-hati!” Duta mengangguk lagi. Ayahnya
langsung keluar rumah. Sementara ia masih di rumah menunggu pagi menjelma.
Sebentar
lagi mau pagi. Tak biasanya ibunya belum bangun. Duta hendak membangunkan
ibunya di kamar. Ia pun masuk ke kamar. Dilihatnya ibu tampak gelisah dalam
selimut. Sesekali suara batuk ibu didengarnya.
“Ibu
sakit?!!” ujarnya dalam hati. Ia langsung mendekati ibunya.
“Duta..”
ucap ibunya pelan. Ibu membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya.
Tampaklah oleh Duta wajah pucat ibu yang menggigil kedinginan. Duta merasa
kening ibu dengan tangannnya. Panas sekali. Dengan tergesa-gesa ia mengambil
air sungai yang dingin dan mengompreskan
ke kening ibunya. Setelah itu Duta langsung masak bubur untuk ibunya.
Cahaya
matahari sudah masuk lewat ventilasi. Sekarang sudah pagi. Duta belum pergi
menemui Pak Adi yang mengajaknya ke kota hari ini karena ia mengurus ibunya.
Dalam hatinya terucap, “Aku tidak boleh egois. Ayah kerja. Aku harus menjaga
ibu yang sedang sakit. Tidak ke kota hari ini bukan masalah. Liburanku masih
ada satu minggu.”
Dengan
inisiatifnya sendiri, Duta memutuskan untuk tidak pergi hari ini. Sebab jika ia
pergi dan pulangnya hampir sore, tidak ada yang mengurusi ibunya karena ayahnya
sedang bekerja. Ia berlari ke rumah Pak Adi dan dengan berat hati ia
menjelaskan semuanya.
“Duta?
Sudah siap?” tanya Pak Adi menyambut kedatangannya.
“Maaf,
Pak, saya ingin sekali ke kota karena saya belum pernah ke sana, tapi sekarang
ibu saya sedang sakit, ayah saya kerja. Saya tidak bisa pergi hari ini. Tapi
saya mohon untuk tetap bisa ikut ke kota dengan bapak, besok atau lusa atau
kapan saja.”
“Oh,
tidak masalah. Besok itu hari minggu, pasar agen tidak buka. Senin sampai
jum’at saya kerja. Kalau sabtu depan bagaimana?”
“Iya,
Pak, saya mau. Terima kasih.” Duta langsung pamit pulang dengan segera karena
ibunya sendirian di rumah. Ia senang, masih ada kesempatan untuknya.
***
Menunggu
hari sabtu berikutnya bukanlah waktu yang sebentar bagi Duta karena ia sudah
tidak sabar untuk bisa pergi ke kota. Namun ia tak diam saja, ia menyempurnakan
satu minggu sebelum hari sabtu dengan bekerja keras agar ia bisa bawa uang ke
kota. Ia bekerja dengan semangat yang luar biasa. Dari pagi hingga malam ia tak
bosan-bosannya bekerja. Ibu dan ayahnya senang sekali melihatnya.
Hari
demi hari berganti. Hingga akhirnya hari yang ditunggu-tunggunya tiba, pada
hari sabtu yang tampak mendung. Namun tak mengurangi semangatnya yang semakin
bersinar nampaknya. Ia juga sudah berhasil mengumpulkan uang untuk pegangan.
Memang luar biasa.
Karena
jam menunjukkan sudah hampir jam enam pagi, ia pun sudah siap untuk berangkat.
Tadi subuh, seperti biasa ayahnya sudah berangkat dan ibunya akan tinggal
sendiri di rumah ini. Dari dalam rumah ia berjalan menuju depan rumah bersama
ibu tercinta. Namun, ia belum bisa pamitan untuk segera berangkat karena hujan
mulai turun. Duta pun mengutuskan untuk menunggu hujan berhenti sambil ngobrol
dengan ibunya.
Semakin
lama semakin lebat hujan turun, ditambah lagi petir yang menyambar-nyambar.
Ombak pun naik ke jalan papan depan rumah yang percikannya sampai masuk ke
rumah. Duta tetap sabar menunggu. Sementara ibu tampak khawatir.
“Ibu
kenapa?” tanya Duta.
“Ayahmu!
Ombak sedang besar,” cemas ibu.
“Ayah
kan tidak sendiri. Ayah pasti baik-baik saja.” Duta berusaha menenangkan ibu.
Waktu
terus berputar. Namun belum ada tanda-tanda kalau hujan akan reda. Sekarang sudah
lewat jam sembilan. Lenyap sudah harapan Duta untuk bisa ke kota dan memang
sudah tidak ada lagi kesempatan. Ia tak menyalahkan siapa-siapa. “Mungkin
memang belum saatnya,” tukasnya dalam hati.
Tak
lama datang sampan ayahnya. Ayahnya langsung turun dari sampan dan masuk ke
rumah dengan basah kuyup. “Huu,
ombaknya besar. Sampan sempan oleng dan kemasukan air. Makanya ayah langsung
pulang,” cerita Ayah.
Ayah
langsung melihat ke arah Duta. Ibu juga melihat Duta. Semua terdiam.
“Duta,
sabar, ya. Ayah yakin, nanti pasti kamu bisa ke kota. Kamu bisa kemana pun yang
kamu inginkan. Kamu kan anak ayah yang hebat,” hibur ayah.
“Iya,
yah, Duta juga yakin.” Duta tegar.
***
Keesokan
harinya di hari minggu yang cerah. Duta hanya duduk di depan rumahnya melihat
seberang sungai sana, melihat bangunan dan gedung-gedung tinggi. Ia tak
bersedih. Ia tetap semangat. Ia memang harus semangat karena sudah kelas 3 SMA
dan besok adalah hari pertamanya di semester dua. (BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar