12/08/15

CERPEN: Duta Ingin Ke Kota

 



Libur semester kembali tiba. Sore ini sudah masuk hari ketiga. Duta duduk seorang diri di depan rumahnya menghadap ke arah sungai Kapuas. Namun, bukan hamparan sungai yang ia lihat, melainkan jauh ke sananya lagi, di seberang sungai itu. Di sana banyak bangunan tinggi nan kokoh. Di sana itu kota Pontianak, kota Khatulistiwa. Duta ingin sekali pergi ke sana.
Sejak SD kelas lima hingga saat ini libur semester pertama kelas tiga SMA, keinginannya untuk dapat pergi ke kota Pontianak belum dapat dicapainya. Ekonomi dan jarak kendalanya.
Rumah Duta terletak di atas sungai kapuas, sehingga sangat sulit untuk ke kota. Jauh dari daratan, tak punya kendaraan darat juga jadi permasalahan. Apalagi ayahnya hanya seorang nelayan. Ia hanya duduk santai sambil menghayal. Depan rumahnya hanya ada jalan papan yang saat ini didudukinya, yang menghubungkan satu rumah ke rumah lain di sekitar sana. Tak ada jalan raya, tak ada sepeda. Apalagi mobil, sudah pasti tidak ada.
Sekarang anak-anak sedang mandi, ibu-ibu mencuci dan para bapak menyiapkan sampan untuk bekerja sebagai nelayan. Waktu memang sudah sore. Namun Duta masih di posisinya melihat bangunan kota yang jauh di sana, dengan pandangan penuh harapan. Tersadar olehnya, “aku bukan siapa-siapa!” tapi bukan berarti ia menyerah. Ia akan tetap bersusaha.
“Duta... sudah mau malam. Ikan yang dijemur itu cepat dibawa masuk.”
“Iya, Bu.” Duta segera melakukan perintah ibunya. Hamparan ikan-kan kecil di atas terpal ditumpuk lalu di bawa masuk. Memang itu sudah menjadi rutinitas hariannya jika sedang tidak turun hujan. Ikan-ikan kecil itu adalah hasil kerja ayahnya sebagai nelayan.
***
“Duta.. panggil ayahmu. Makan malamnya sudah siap,” teriak pelan ibu dari dapur.
“Iya, Bu.” Duta berhenti baca buku dan membereskan buku-buku disekitarnya. Memang, meskipun sekarang masih waktu liburan, bagi Duta baca buku dan belajar tak ada kata libur, apalagi ia akan masuk semester dua kelas tiga yang berarti ia akan menghadapi ujian nasional. Duta bergegas keluar rumah memanggil ayahnya yang sedang melakukan entah apa di sampan tua kesayangannya.
“Yah, dipanggil ibu. Makan.”
“Iya, sebentar. Duluan saja.”
Duta tak menjawab lagi. Ia langsung masuk, menuju di mana makanan dihidangkan.
“Bu, ayah sebentar lagi katanya,” jelas Duta pada ibunya.
“Ya sudah, kamu duluan saja. Biar ibu menunggu ayahmu.”
Duta pun makan duluan. Di hadapannya ada nasi dan tiga jenis lauk dari ikan. Ikan goreng, ikan yang dagingnya di cabik-cabik dan disambal serta ikan masak kuah, semua serba ikan. Memang itu lauk yang sudah tak asing bagi Duta. Ia lahap saja memakannya. Tak lama, ibu dan ayah menghampirinya juga ikut makan. Mereka duduk membentuk lingkaran.
Awalnya tak ada pembicaraan saat makan, sang ayah membuka pembicaraan dengan membicarakan tentang menurunnya harga ikan. Tak lama, Duta lalu memotong pembicaraan.
“Bu, Yah, kapan Duta diajak ke kota?”
Ayahnya diam sejenak. Ibunya cepat-cepat menghabiskan makanan yang memang tinggal sedikit. “Ibu mau ke belakang,” ucap ibu langsung pergi ke dapur tak tahu kenapa. Duta tampak bingung, “Ada apa? Seperti ada yang berbeda.” Ibunya tampak termenung di dapur.
Ayahnya tersenyum. “Nanti kamu akan sampai ke kota. Kamu sabar saja. Ayah kan masih cari uang,” jelasnya lembut pada Duta.
“Tapi sampai kapan? Ayah selalu bilang begitu. Ayah hanya janji. Duta ingin sekali ke kota, Yah. Teman-teman Duta semuanya sudah sering ke sana,” rungut Duta.
“Ayah kan tidak diam. Ayah masih berusaha,” Suara ayahnya agak naik.
Senyum sang ayah hilang dengan wajah tampak menyesal. Duta pun tersadar dengan keadaan keluarganya saat ini. “Maaf, Yah. Besok Duta akan ikut ayah kerja, bantu ayah.”
Ayahnya mengangguk. Mungkin ayah kecewa pada dirinya sendiri. Tampaknya ia ingin sekali minta maaf pada Duta. Namun ia tak mampu mengucapkannya. Ibu datang membawa air dalam ceret serta dua gelas plastik. “Sudah selesai kamannya? ini minumnya,” ucap ibu lalu meletakkan di lantai. Semua sudah selesai makan.
***
Angin yang berhembus sangat sejuk terasa, sehingga Duta menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Rasa nyaman itu seolah membuat ia manja di atas tempat tidurnya yang tanpa ranjang, hanya kasur yang terletak di lantai.
Semakin lama semakin melengkung tubuh Duta merasa udara yang aduhai dinginnya. Hening subuh itu terpecahkan oleh suara ombak yang cukup kencang terdengar, hingga ia tak nyenyak tidur. Namun lebih dipecahkan lagi oleh suara ibu yang memanggilnya.
“Duta...!!!”
Duta hanya menjawab, “Mmm..?!!” Namun ia masih dalam selimut. Ia tak bergerak.
“Kamu bilang mau ikut ayahmu hari ini, cepat.... ayahmu sudah mau berangkat!”
Hmm,” gumam Duta masih dalam selimutnya. Hati kecilnya berkata, “Seandainya yang ibu maksud ikut ayah adalah untuk berangkat ke kota mengisi liburanku!.” Hati kecilnya menjawab lagi, “Ahk, tak mungkin itu terjadi sekarang karena kenyataannya yang ibu maksud adalah untuk ikut ayah berangkat bekerja.”
Langkah kaki ibu terdengar mendekatinya, hendak menariknya untuk bangun agar bisa segera menyusul ayah yang sudah menunggunya di sampan, di luar sana. Namun, baru saja tangan ibu menyentuhnya dari luar selimut, ibu merasakan panasnya tubuh Duta yang melengkung kedinginan dan menggigil. Ibu pun tersontak kaget.
“Duta, kamu sakit? Badanmu panas!”
Duta tak menjawab, ia masih menggigil dalam selimutnya.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar ibu bilang ke ayahmu kalau kamu tidak bisa ikut. Lagi pula masih ada Pak Lan. Biasa juga ayahmu berdua saja. Ya sudah!” Ibu Duta lalu keluar rumah menuju ayah Duta di sampan dan menyampaikan kalau Duta sakit dan jangan ikut kerja dulu.
Pagi telah tiba. Sinarnya sudah masuk melalui ventilasi rumah.
Seharusnya saat ini Duta berada di sungai, di atas sampan bersama ayahnya karena hari-hari dan liburan-liburan sebelumnya juga itu yang dilakukannya. Tapi hari ini ia sakit demam. Tubuhnya panas dan semakin panas.
Ibu menghampirinya, membawakannya semangkuk bubur ikan. Memang hanya bubur ikan yang bisa ibu siapkan. Jika ingin membuat bubur ayam, ibu harus jauh ke darat, ke pasar membeli ayam. Makanya ibu pilih yang mudah saja, lagi pula ibu rasa sama saja. Kalaupun berbeda, ya, tidak jauh berbeda.
Duta melawan rasa lemah yang semakin bertambah lemah pada tubuhnya. Ia bangun dan mendudukkan tubuhnya. Lalu mengambil semangkuk bubur ikan dari ibu dan memakannya. Satu, dua, tiga, hingga lima sendok ia makan. Ia berhenti lalu minum.
“Kalau sakit begini, bagaimana aku bisa cari uang untuk ke kota!” serunya dalam hati. Ia tampak yakin bahwa liburan kali ini ia akan pergi ke kota, menikmati suasana yang selama ini diidam-idamkannya. Ketika itu juga ia memutuskan kalau hari ini ia harus sembuh agar bisa bantu ayahnya mencari dan mengumpulkan uang lebih banyak. Sebab setahunya, di kota itu serba mahal. Meskipun ia bukan mau befoya-foya di sana. Ia hanya ingin lihat langsung kota yang selama ini menghantuinya, kota yang katanya begitu, begini, entah bagaimana sebenarnya yang dimaksud oleh teman-teman sekolahnya.
***
Hari berikutnya tiba. Pagi tadi sungguh cerah. Menjelang siang ini sinar mentari sungguh sangat teriknya. Di atas sampan di sungai, Duta dan ayahnya mendekati rumah dengan ayahnya yang mengemudikannya.
Memang sejak subuh tadi Duta memutuskan untuk ikut dengan ayahnya. Meskipun tubuhnya belum enakan, panas tubuhnya masih sedikit terasa, ia tetap bersikeras untuk ikut ayahnya karena ia berharap dengan ia ikut ayahnya bisa mendapatkan hasil yang lebih dari biasanya. Ayahnya lalu mematikan mesin sampan yang diarahkan mendekat ke depan rumah.
“Bu...!!!” teriak Duta yang masih di atas sampan bersama ayahnya.
Duta bergegas turun dari sampan. Ia menuju ke rumah. Belum masuk ke rumah, ibunya keluar memenuhi teriakannya.
“Iya, kenapa teriak-teriak?” tanya ibu dengan wajah cemas karena setahunya Duta anaknya itu sedang sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan Duta.
Namun dugaan ibu salah, Duta malah tersenyum dengan wajah senangnya. Ibu melihat ke arah Ayah Duta, suaminya, yang melihat ke arahnya menampakkan raut wajah yang bingung. Ibu jadi bingung, “Ada apa?” tanyanya pada Duta.
“Bu, hari ini dapat ikan banyak. Ikan Betutu besar dapat tiga, udang A dapat dua, yang B dapat empat. Semua sudah di jual. Uangnya lumayan banyak, lho!”
Ibu mulai paham kalau Duta sangat yakin bahwa liburan kali ini ia benar-benar akan pergi ke kota, ya dengan uang itu. Wajah ayah yang bingung juga ibu paham, sebab penghasilan yang lebih hari ini bukan berarti lebih, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Ibu hanya tersenyum dan mengucap “Syukurlah,” dan Duta kembali ke sampan membantu ayahnya. Duta senang sekali nampaknya.
***
Hari berikutnya. Ibu keluar rumah dengan pakaian biasa. Namun lebih rapi dari yang biasa. “Yah, ibu ke warung dulu, ya. Mau beli sayur,” pamit ibu pada suaminya.
“Iya,” jawab suaminya.
“Tidak keawalan, Bu?” tanya Duta yang juga ada di situ.
“Harus awal dong, nanti sayurnya habis jika telat perginya,” jawab ibu langsung berjalan di atas jalan papan meninggalkan rumah.
Hari ini Duta dan ayahnya memang tidak pergi karena sampan mereka ada yang bocor, sehingga inisiatif dari ayah untuk memperbaikinya hari ini, agar besok atau lusa bisa kembali kerja. Duta dan ayahnya mengangkat sampan yang tidak besar itu ke pinggir jalan papan depan rumahnya, lalu ditelungkupkan agar bisa menampal bagian yang bocor.
Bagi seorang nelayan sebenarnya tidak ada libur, karena memang tidak ada jadwal seperti pegawai negeri. Makanya hari ini ibu ingin buat sarapan pagi yang spesial dengan tidak hanya menggunakan ikan, tapi juga ada sayur atau yang lain.
Sekitar sepuluh menit berjalan kaki di atas jalan papan ke arah daratan, ibu pun sampai di warung yang masih di atas sungai. Memang warung di atas sungai ini hanya ada satu. Jika ingin ke warung lain harus berjalan lebih jauh lagi karena warung lainnya ada di darat sana.
“Bu Ida!” sapa Ibu Duta kepada penjaga warung yang memang kenal akrab dengannya.
“Eh, ibu, mau beli apa? Silahkan!” jawab Bu Ida, pemilik warung itu.
Setelah itu terjadilah perbincangan antara Ibu Duta dan Bu Ida yang panjang lebar sambil Ibu Duta memilah-milih apa-apa yang ingin ia beli. Akhirnya sampailah pada pembicaraan Bu Ida yang ingin belanja ke kota.
“Telurnya ada, Bu?” tanya Ibu Duta kepada Bu Ida.
“Maaf, lagi kosong. Sebenarnya sabtu besok saya mau ke kota, belanja. Tapi saya gak enak badan, padahal sudah jadwal seminggu sekali. Tidak mungkin suami saya pergi sendiri. Siapa yang mau bantu pegang barang-barang?!” jelas Bu Ida. “Kalau dari sini ke kota harus pergi pagi dan pulangnya siang. Tidak mampu saya kalau sedang sakit begini. Demam dari kemaren belum hilang juga,” sambungnya.
Ibu Duta sedikit tersentak mendengar ucapan Bu Ida. “Oh.. begitu..”
Ingin sekali Ibu mengatakan kalau anaknya Duta pasti mau jika diajak ke kota. Tapi, masalahnya Duta ingin keliling kota, bukan hanya ke pasar agen. Ibu termenung seketika. Kemudian ibu sadar dan membayar belanjaannya dan bergegas pulang. Entah apa yang ia pikirkan. “Pulang ya, Bu.”
“Iya, terima kasih,” jawab Bu Ida.
“Sama-sama.” Ibu mulai melangkah dan terus melangkah dan sekarang sekitar 20 meter lagi ibu sampai ke rumah. Ia melihat suami dan Duta anaknya masih mengurusi sampan. Dilihatnya juga wajah Duta yang tampak bersemangat dan bersungguh-sungguh. Ia tidak tega jika keinginan anaknya itu kembali tertunda untuk waktu yang begitu lama.
Sampai di rumah, ibu langsung masuk ke rumah, menyimpan belanjaan di dapur. Tiba-tiba dari dapur ibu meneriaki Duta. “Duta... kesini sebentar!”
Duta yang berada di luar sana tampak tak mendengar. Namun ayahnya mendengar. Sekali lagi ibu berteriak seperti tadi, ayah mendengar lebih jelas lagi.
“Duta, dipanggil ibumu, tu!” seru ayah pada Duta.
Untuk yang ketiga kalinya ibu berteriak seperti yang pertama. Yang ketiga kalinya ini Duta mendengarnya. Duta segera berlari kecil masuk ke rumah, menghampiri ibunya.
“Ada apa, Bu?”
“Ini, ibu ingin segera masak, tapi ibu lupa beli garam. Ibu kira masih ada, sudah habis ternyata. Bisa bantu ibu pergi ke warung sebentar kan? Ini uangnya...”
Ibu memberi Duta uang untuk membeli garam. Duta mengambilnya dan bergegas pergi. Duta tidak terlalu tergesa-gesa alias santai saja berjalan di atas jalan papan. Terus berjalan melewati satu rumah ke rumah berikutnya. Ia juga melirik ke arah sungai yang luas yang tak bisa dipungkiri sangat ia cintai. Itulah sungai kapuas. Sambil berjalan pelan, ia menyanyikan lirik demi lirik lagu sungai kapuas yang ia sangat hafal.
Hey.. sampan laju, sampan laju dari hilir sampai ke hulu
Sungai kapuas, sungguh panjang dari dolok membelah kote
Hey.. tak disangke, tak disangke dolok utan menjadi kote
Ramai pendudoknye, pontianak name kotenye
   Sungai kapuas punye cerite,
   Bile kite minom aeknye
   Biarpon pegi jaoh kemane
   Sungguh susah nak melupakkannye
   Hey.. kapuas... hey.. kapuas.
Berakhir lagu yang sangat asik ia nyanyikan, terhenti juga langkah kakinya. Ia sudah sampai di depan warung. Di warung masih ada Bu Ida. Tanpa basa-basi, Duta langsung membeli garam. “Bu Ida, beli garam, Bu?”
“Oh, berapa bungkus?.”
“Satu saja.”
Bu Ida mengambil sebungkus garam, memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam dan memberikannya kepada Duta. Duta pun mengambilnya lalu membayar dengan uang pas seribu rupiah.
“Tadi kan ibumu sudah kemari, belanja. Ibumu lupa ya?”
“Iya, habisnya ibu buru-buru katanya. Kalau begitu saya pulang dulu, ya, Bu.”
Duta berbalik badan dan mulai melangkah, satu langkah, dua langkah. “Duta!” ada suara memanggilnya. Suara itu dari arah belakangnya, tapi menurutnya itu bukan suara Bu Ida. Duta berbalik badan. Dilihatnya ada Pak Adi. Ya, memang Pak Adi yang memanggilnya tadi.
“Duta, kamu mau ikut bapak ke kota besok? Tapi pulangnya agak sore. Nanti bapak ajak kamu jalan-jalan dulu deh. Soalnya istri saya kan lagi sakit, barang warung sudah pada kosong. Bagaimana?”
Wah, mau, Pak, saya mau.”
“Kalau begitu, besok pagi kamu ke sini. Sepeda motor bapak ada di darat sana.”
“Iya. Kalau begitu saya pulang dulu, ya. Terima kasih.”
Kebahagaian sangat terpancar dari wajah Duta, senyum lebarnya dan ia berjalan cepat menuju rumahnya. Begitu bahagianya Duta mendapatkan kesempatan yang sudah bertahun-tahun dinantikannya.
Sesampainya di rumah, Duta membagikan kebahagiaannya pada ayah dan ibunya. Duta melihat kedua orang tuanya tampak senang mendengar ceritanya. Namun, di belakangnya tampak kekhawartiran dari kedua orang tuanya itu. Dari pagi itu, siang, sampai malamnya Duta terbayang-bayang bagaimana kota Pontianak yang ia akan ke sana. Bangunan sekolah, gedung-gedung perusahaan dan semua yang akan ia pandang. Bahagaianya luar biasa.
***
Hari yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Matahari belum nampak sinarnya, tapi Duta sudah rapi untuk segera pergi. Kebetulan subuh itu ayahnya juga siap untuk pergi bekerja. Ayahnya akan bekerja dengan Pak  Lan, seperti biasa dan kali ini pun menggunakan sampan Pak  Lan. Sebelum ayahnya berangkat, Duta menghadap ayahnya.
“Yah, uang kemaren masih ada, kan? Duta mau bawa, barangkali perlu.”
Ayah terdiam sejenak. “Duta, ayah minta maaf kalau kali ini tidak bisa bantu kamu. Uang kemaren sudah untuk bayar hutang,” jelas ayahnya. “Tapi, masih ada sepuluh ribu ni, bawa saja.”
Duta tertegun. Ayanya hanya punya uang sepuluh ribu rupiah. Ia jadi tidak enak mengambilnya. “Tidak usah saja, Yah. Duta kan hanya lihat-lihat, jadi tidak bawa uang juga tidak apa-apa.”
“Kamu yakin?” tanya ayahnya. Duta mengangguk. “Kalau begitu ayah pergi dulu, ya, pasti ayah sudah ditunggu. Kamu hati-hati!” Duta mengangguk lagi. Ayahnya langsung keluar rumah. Sementara ia masih di rumah menunggu pagi menjelma.
Sebentar lagi mau pagi. Tak biasanya ibunya belum bangun. Duta hendak membangunkan ibunya di kamar. Ia pun masuk ke kamar. Dilihatnya ibu tampak gelisah dalam selimut. Sesekali suara batuk ibu didengarnya.
“Ibu sakit?!!” ujarnya dalam hati. Ia langsung mendekati ibunya.
“Duta..” ucap ibunya pelan. Ibu membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh Duta wajah pucat ibu yang menggigil kedinginan. Duta merasa kening ibu dengan tangannnya. Panas sekali. Dengan tergesa-gesa ia mengambil air sungai yang dingin dan mengompreskan ke kening ibunya. Setelah itu Duta langsung masak bubur untuk ibunya.
Cahaya matahari sudah masuk lewat ventilasi. Sekarang sudah pagi. Duta belum pergi menemui Pak Adi yang mengajaknya ke kota hari ini karena ia mengurus ibunya. Dalam hatinya terucap, “Aku tidak boleh egois. Ayah kerja. Aku harus menjaga ibu yang sedang sakit. Tidak ke kota hari ini bukan masalah. Liburanku masih ada satu minggu.”
Dengan inisiatifnya sendiri, Duta memutuskan untuk tidak pergi hari ini. Sebab jika ia pergi dan pulangnya hampir sore, tidak ada yang mengurusi ibunya karena ayahnya sedang bekerja. Ia berlari ke rumah Pak Adi dan dengan berat hati ia menjelaskan semuanya.
“Duta? Sudah siap?” tanya Pak Adi menyambut kedatangannya.
“Maaf, Pak, saya ingin sekali ke kota karena saya belum pernah ke sana, tapi sekarang ibu saya sedang sakit, ayah saya kerja. Saya tidak bisa pergi hari ini. Tapi saya mohon untuk tetap bisa ikut ke kota dengan bapak, besok atau lusa atau kapan saja.”
“Oh, tidak masalah. Besok itu hari minggu, pasar agen tidak buka. Senin sampai jum’at saya kerja. Kalau sabtu depan bagaimana?”
“Iya, Pak, saya mau. Terima kasih.” Duta langsung pamit pulang dengan segera karena ibunya sendirian di rumah. Ia senang, masih ada kesempatan untuknya.
***
Menunggu hari sabtu berikutnya bukanlah waktu yang sebentar bagi Duta karena ia sudah tidak sabar untuk bisa pergi ke kota. Namun ia tak diam saja, ia menyempurnakan satu minggu sebelum hari sabtu dengan bekerja keras agar ia bisa bawa uang ke kota. Ia bekerja dengan semangat yang luar biasa. Dari pagi hingga malam ia tak bosan-bosannya bekerja. Ibu dan ayahnya senang sekali melihatnya.
Hari demi hari berganti. Hingga akhirnya hari yang ditunggu-tunggunya tiba, pada hari sabtu yang tampak mendung. Namun tak mengurangi semangatnya yang semakin bersinar nampaknya. Ia juga sudah berhasil mengumpulkan uang untuk pegangan. Memang luar biasa.
Karena jam menunjukkan sudah hampir jam enam pagi, ia pun sudah siap untuk berangkat. Tadi subuh, seperti biasa ayahnya sudah berangkat dan ibunya akan tinggal sendiri di rumah ini. Dari dalam rumah ia berjalan menuju depan rumah bersama ibu tercinta. Namun, ia belum bisa pamitan untuk segera berangkat karena hujan mulai turun. Duta pun mengutuskan untuk menunggu hujan berhenti sambil ngobrol dengan ibunya.
Semakin lama semakin lebat hujan turun, ditambah lagi petir yang menyambar-nyambar. Ombak pun naik ke jalan papan depan rumah yang percikannya sampai masuk ke rumah. Duta tetap sabar menunggu. Sementara ibu tampak khawatir.
“Ibu kenapa?” tanya Duta.
“Ayahmu! Ombak sedang besar,” cemas ibu.
“Ayah kan tidak sendiri. Ayah pasti baik-baik saja.” Duta berusaha menenangkan ibu.
Waktu terus berputar. Namun belum ada tanda-tanda kalau hujan akan reda. Sekarang sudah lewat jam sembilan. Lenyap sudah harapan Duta untuk bisa ke kota dan memang sudah tidak ada lagi kesempatan. Ia tak menyalahkan siapa-siapa. “Mungkin memang belum saatnya,” tukasnya dalam hati.
Tak lama datang sampan ayahnya. Ayahnya langsung turun dari sampan dan masuk ke rumah dengan basah kuyup. “Huu, ombaknya besar. Sampan sempan oleng dan kemasukan air. Makanya ayah langsung pulang,” cerita Ayah.
Ayah langsung melihat ke arah Duta. Ibu juga melihat Duta. Semua terdiam.
“Duta, sabar, ya. Ayah yakin, nanti pasti kamu bisa ke kota. Kamu bisa kemana pun yang kamu inginkan. Kamu kan anak ayah yang hebat,” hibur ayah.
“Iya, yah, Duta juga yakin.” Duta tegar.
***
Keesokan harinya di hari minggu yang cerah. Duta hanya duduk di depan rumahnya melihat seberang sungai sana, melihat bangunan dan gedung-gedung tinggi. Ia tak bersedih. Ia tetap semangat. Ia memang harus semangat karena sudah kelas 3 SMA dan besok adalah hari pertamanya di semester dua. (BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar