10/04/15

CERPEN: Pesan Argi Untuk Negeri

 


Baru saja Argi mendapat pesan singkat di Hpnya.
Bang, Maagh ibu kambuh, dan obatnya sudah habis. Aku gak punya uang sama sekali. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?”.
Itu isi pesan singkat yang diterimanya, dan tertulis di Hpnya bahwa pengirim pesan singkat itu adalah Ita, adik kandungnya.
Argi segera bergegas untuk pulang, meskipun ia belum lama sampai di tempat kerjanya disalah satu Bank Syari’ah di Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak Utara.
Ia keluar dari ruang kerjanya di lantai dua dan turun ke lantai dasar. Di lantai dasar ia langsung menuju salah satu ruangan, yakni ruangan  Pak Danil, atasannya. Saat tepat di depan pintu, ia berhenti dan mengetuk pintu tersebut.
“Tok, tok, tok,” Argi mengetuk pintu.
“Siapa?” terdengar suara dari dalam.
“Saya, Pak, Argi,” ucap Argi yang masih berada di luar.
“Oh, silahkan masuk,” kata Pak Danil.
Argi pun membuka pintu dan masuk. Ia berjalan mendekati meja Pak Danil dan duduk di kursi yang berada tepat di depan meja Pak Danil.
“Ada apa, Gi?”
“Itu, Pak, m, m,”
“Itu apa?, bicara saja, jangan gugup”
Berat Argi bicara untuk minta izin pulang, karena tadi pagi ia telat datang dan sekarang harus izin pulang. Namun rasa itu dikuburnya dalam-dalam, karena ia sangat khawatir akan keadaan ibunya di rumah.
 “Anu, Pak. Saya mau izin pulang, karena penyakit magh ibu saya kambuh dan baru saja adik saya sms kalau obat ibu saya habis, dan adik saya gak punya uang, dan…”
“Ya, ya, silahkan,” potong Pak Danil.
Tanpa pikir panjang lagi, Argi langsung berdiri dari duduknya dan hendak keluar ruangan, pulang.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya sambil mengarahkan tangan kanannya di depan Pak Danil.
“Ya,” jawab Pak Danil sambil meraih tangan Argi, bersalaman.
Argi langsung keluar ruangan, menuju pintu kantor dan keluar menuju tempat parkir, mengambil motornya. Ia langsung menyalakan motornya dan langsung tancap gas, Brmmm….
***
Argi merupakan sarjana Ekonomi di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam) Pontianak, dan Ita, adiknya adalah siswi kelas XII di SMAN 8 Pontianak, dan mereka berdua adalah Yatim, karena Ayahnya telah meninggal setahun yang lalu. Kini tinggallah Argi, adiknya Ita dan Ibu tercinta.
***
Ita tidak sekolah hari ini, karena guru-guru di sekolahnya ada rapat. Jadi ia bisa menjaga ibunya. Kalau ia sekolah, terpaksa ibunya harus dititipkan di rumah Bi Eli, adik ibunya yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumahnya.
***
Tak jauh dari kantornya, ia berhenti tepat di depan sebuah apotik untuk membeli obat ibunya yang habis. Saat sedang membeli obat, Hp Argi berbunyi, tanda ada yang menelpon.
“Cong, cong, cong, kopi pancong. Tak be-duet kopi la pancong,…”
Pemuda Pontianak pasti tahu lagu ini, meskipun hanya mendengarnya sekilas. karena lagu yang liriknya menggunakan bahasa melayu Pontianak ini sangat mencirikan pemuda yang cinta tanah khatulistiwa.
Dengan segera Argi mengambil Hp di saku celananya, karena Hp tersebut berbunyi. Dilihatnya, ternyata Ita, adiknya yang menelpon, dan dengan segera ia menjawab panggilan di Hpnya itu.
“Assalamu’alaikum,”
“Ada apa, Ta?” sambungnya.
“Bang Argi dimana?, pulang- kan?”
“Iya, sudah di jalan. Tunggu ya?”
“Ya, cepat ya, Bang?
“Iya,”
Argi langsung mematikan telepon dan dengan segera ia menyimpan kembali Hpnya di saku kemeja putihnya.
Setelah itu, Argi kembali tancap gas untuk melanjutkan perjalanan, karena ia masih akan melewati jalan yang panjang, karena rumahnya cukup jauh dari kantornya, yakni di Kota Baru, dan harus menyeberangi dua jembatan tol Kapuas. Sementara saat ini ia masih berada di Siantan, tak jauh dari kantornya.
Tampak olehnya, penunjuk arah yang menunjukkan perempatan jalan yang jika belok kanan adalah menuju pusat kota Pontianak dan itulah jalan pulangnya. Saat hampir sampai pada perempatan jalan itu, ia pun harus menghentikan sementara laju motornya karena lampu merah menyala.
Ia tak sendiri, banyak pula kendaraan yang berhenti. Saat menunggu giliran lampu hijau menyala, ia terkagetkan dengan seseorang mengendarai sepeda motor berwarna merah yang belok kanan dan melaju begitu saja.
“Uh… Apakah ia buta?” tanya hati kecilnya.
“Kalau buta pasti tak bisa mengendarai motornya. Em, entahlah. Ia hampir saja membuang nyawanya,” sambungnya dalam hati juga.
Memang, dari arah yang akan Argi lalui tampak sepi, namun itu tetap salah karena orang itu tidak menaati aturan lalu lintas yang ada.
Tak lama kemudian lampu hijau pun menyala, ia mulai tancap gas perlahan-lahan.
“Teettt, teettt, teettt…..”
Kembali Argi terkagetkan. Tapi kali ini dengan suara klakson kendaraan yang berada di belakang.
“Uh, mengapa sih?, tak bisa sedikit sabarkah dia?” tanyanya dalam hati.
“Apa ibunya juga kambuh magh, atau ada yang harus ia lakukan segera di tempat tujuannya?”  sambungnya juga dalam hati.
Ia mencoba tenang dan sabar sambil tetap tancap gas, perlahan-lahan, dan mulai melaju perlahan.
***
Perjalanan Argi masih jauh, belum setengah dari jarak kantor dengan rumahnya. Belum lama ia melewati jembatan Tol Kapuas yang pertama dan perjalanannya kembali terhambat saat hendak melewati jembatan Tol Kapuas yang kedua, karena banyaknya kendaraan yang melintas dari arah yang berlawanan maupun yang searah dengannya.
Kemacetan cukup panjang ini membuat Argi termenung. Dengan raut wajah yang tampak risau, ia teringat dengan orang di lampu merah tadi.
“Dia bisa, mengapa aku tidak!” serunya dalam hati.
“Aku bisa segera pulang,” Argi mulai berfikiran negatif.
Perlahan-lahan ia menarik gas sepeda motornya menelusuri sela-sela kendaraan, berusaha untuk segera keluar dari kemacetan.
Usahanya berhasil, sekarang ia berada di depan dan lebih dahulu terlepas dari kemacetan dari pada kendaraan yang berada di dekatnya di belakang, tadi.
***
Jembatan Tol Kapuas yang kedua pun telah ia lewati. Untuk kesekian kalinya, ia harus mengendurkan gas sepeda motornya dan berhenti, karena lampu merah kembali menyala, perempatan jalan lagi.
Argi berada cukup jauh dibelakang.
“Aku bisa,” ucapnya pelan.
Argi melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya, yakni menelusuri sela-sela kendaraan. Ini tak lain, agar ia bisa segera sampai ke rumah.
“Teeettt, teeettt, teeettt…”
Klakson kendaraan didekatnya berbunyi berulang-ulang. Teriakkan pun tak sedikit ia dapatkan dari orang-orang yang berhasil ia lewati.
“Sabar lah…”, “Antri…”, “Tertib…”
Entah apa yang merasuki pikirannya.
***
Lampu hijau pun menyala. Ia masih berada di tengah-tengah kepadatan kendaraan.
Perlahan-lahan ia bergerak ke depan. Namun, lampu hijau tinggal 5 detik menyala. Argi yang berada hanya satu kendaraan di belakang mencoba untuk berada di depan.
5, 4, 3, 2, 1…. Lampu merah kembali menyala.
“Bakalan lama ni,” fikirnya.
Ia yang terlanjur berada di depan langsung menarik cepat gas sepeda motornya.
“BRRRMMMMM…..” Argi melanggar lampu merah. Ia melaju, belok kanan dengan senyum di wajahnya.
Sedikit lagi ia akan melewati perempatan jalan, namun naas.
“AWWW,” Argi berteriak keras.
Sepeda motor yang dikendarainya bersenggolan dengan sepeda motor yang ukurannya lebih besar dari sepeda motornya. Sepeda motornya pun oleng, senget ke kiri.
“BrRoKk…” Argi menabrak trotoar dan terjatuh.
Celananya sobek dibagian lutut dan lutunya berdarah. Ia berusaha bangkit, namun tak bisa karena kaki kirinya tertimpa sepeda motornya.
Tampak olehnya seorang beseragam berlari kearahnya, menghampirinya.
“Polantas!!!” seunya dalam hati.
Wajah Argi berbagai ekspresi, malu, sakit, takut, bahkan senyum pun terpancar di wajahnya.
“Ayo, Dek!” Pak Polantas membantunya.
“I ii yya, Pak” Argi tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menuruti perintah Pak Polantas.
***
Kini Argi berada di Pos Polantas. Ia ditanya dengan berbagai pertanyaan.
Argi hanya bisa bicara jujur, sejujur-jujurnya. Ia mengaku bahwa ia bersalah dan ia berjanji untuk tidak melanggar peraturan lagi.
Hampir setengah jam ia ditanya-tanya. Sepertinya Pak Polantas tidak marah dan Argi pun diperbolehkan pulang.
“Terima kasih ya, Pak” ucap Argi sambil bersalaman kepada Pak Polantas.
“Iya. Lain kali hati-hati, ya?” ujar Pak Polantas.
“Ingat, lebih baik kehilangan satu menit dalam hidup, dari pada kehilangan hidup dalam satu menit,” lanjut Pak Polantas.
“Siap, Pak!” Argi hormat, senyum.
Pak Polantas membalas hormatnya. Ia langsung menyalakan sepeda motornya, dan BRrrrMmmm..., ia kembali ke jalan raya, syukur.
***
Kini Argi melaju tertib. Ia mentaati semua aturan lalu lintas. Bahkan dalam hatinya terlintas ucapan, “aku akan tertib disegala hal”.
“Semoga ini yang terakhir”
“Semoga tak ada yang sepertiku,”
“Seandainya semua bisa tertib, pasti bisa nyaman,”
“…”
“…”
Banyak ucapan yang terucap dari mulut Argi. Ia tak henti-hentinya memanjatkan doa, syukur atas keselamatan dari Allah, Tuhan YME, dan ia juga tak henti-hentinya berandai-andai,
semoga negeri ini bisa tertib dan orang negeri bisa lebih menertibkan negeri ini”.
***
Kurang lebih lima belas menit di perjalanan, Argi pun sampai di rumah sederhananya di Kota Baru, di Gang PGA nomor 18 F.
“Assalamu’alaikum,” ucap Argi.
Tak ada jawaban. Ia langsung membuka pintu, masuk dan menuju ke kamar ibunya.
“Bang Argi datang, Bu” Ita, adik Argi mengucap pelan.
“Ini obat ibu,” Argi memberikan obat itu kepada Ita.
Tak menunggu lama, Ita langsung meminumkannya kepada ibunya tercinta. Kini semua baik-baik saja. Ibunya mulai enakan.
“Abang gak apa-apa?” tanya Ita dengan heran, karena melihat Abangnya diperban dilengannya dan celananya sobek di bagian lutut.
“Iya. Kamu kenapa, Nak?” Ibunya juga bertanya.
“Begini…………………………………………………………..” Argi menjelaskan panjang lebar dari apa yang terjadi padanya di jalan.
Tak ada komentar berarti, yang jelas Argi menyadari dan berjanji untuk lebih tertib dan hati-hati.
Semua baik-baik saja. (*) #cerpen kalbar

(Maaf, jika sama tempat dan nama)


Tidak ada komentar:
Tulis komentar