Baru
saja Argi mendapat pesan singkat di Hpnya.
“Bang,
Maagh ibu kambuh, dan obatnya sudah habis. Aku gak punya uang sama sekali. Aku
bingung. Apa yang harus aku lakukan?”.
Itu
isi pesan singkat yang diterimanya, dan tertulis di Hpnya bahwa pengirim pesan
singkat itu adalah Ita, adik kandungnya.
Argi
segera bergegas untuk pulang, meskipun ia belum lama sampai di tempat kerjanya
disalah satu Bank Syari’ah di Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak Utara.
Ia
keluar dari ruang kerjanya di lantai dua dan turun ke lantai dasar. Di lantai
dasar ia langsung menuju salah satu ruangan, yakni ruangan Pak Danil,
atasannya. Saat tepat di depan pintu, ia berhenti dan mengetuk pintu tersebut.
“Tok,
tok, tok,” Argi mengetuk pintu.
“Siapa?”
terdengar suara dari dalam.
“Saya,
Pak, Argi,” ucap Argi yang masih berada di luar.
“Oh,
silahkan masuk,” kata Pak Danil.
Argi
pun membuka pintu dan masuk. Ia berjalan mendekati meja Pak Danil dan duduk di
kursi yang berada tepat di depan meja Pak Danil.
“Ada
apa, Gi?”
“Itu,
Pak, m, m,”
“Itu
apa?, bicara saja, jangan gugup”
Berat
Argi bicara untuk minta izin pulang, karena tadi pagi ia telat datang dan
sekarang harus izin pulang. Namun rasa itu dikuburnya dalam-dalam, karena ia
sangat khawatir akan keadaan ibunya di rumah.
“Anu,
Pak. Saya mau izin pulang, karena penyakit magh ibu saya kambuh dan baru saja
adik saya sms kalau obat ibu saya habis, dan adik saya gak punya uang, dan…”
“Ya,
ya, silahkan,” potong Pak Danil.
Tanpa
pikir panjang lagi, Argi langsung berdiri dari duduknya dan hendak keluar
ruangan, pulang.
“Terima
kasih, Pak,” ucapnya sambil mengarahkan tangan kanannya di depan Pak Danil.
“Ya,”
jawab Pak Danil sambil meraih tangan Argi, bersalaman.
Argi
langsung keluar ruangan, menuju pintu kantor dan keluar menuju tempat parkir,
mengambil motornya. Ia langsung menyalakan motornya dan langsung tancap gas,
Brmmm….
***
Argi
merupakan sarjana Ekonomi di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam) Pontianak, dan
Ita, adiknya adalah siswi kelas XII di SMAN 8 Pontianak, dan mereka berdua
adalah Yatim, karena Ayahnya telah meninggal setahun yang lalu. Kini tinggallah
Argi, adiknya Ita dan Ibu tercinta.
***
Ita
tidak sekolah hari ini, karena guru-guru di sekolahnya ada rapat. Jadi ia bisa
menjaga ibunya. Kalau ia sekolah, terpaksa ibunya harus dititipkan di rumah Bi
Eli, adik ibunya yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumahnya.
***
Tak
jauh dari kantornya, ia berhenti tepat di depan sebuah apotik untuk membeli
obat ibunya yang habis. Saat sedang membeli obat, Hp Argi berbunyi, tanda ada
yang menelpon.
“Cong,
cong, cong, kopi pancong. Tak be-duet kopi la pancong,…”
Pemuda
Pontianak pasti tahu lagu ini, meskipun hanya mendengarnya sekilas. karena lagu
yang liriknya menggunakan bahasa melayu Pontianak ini sangat mencirikan pemuda
yang cinta tanah khatulistiwa.
Dengan
segera Argi mengambil Hp di saku celananya, karena Hp tersebut berbunyi.
Dilihatnya, ternyata Ita, adiknya yang menelpon, dan dengan segera ia menjawab
panggilan di Hpnya itu.
“Assalamu’alaikum,”
“Ada
apa, Ta?” sambungnya.
“Bang
Argi dimana?, pulang- kan?”
“Iya,
sudah di jalan. Tunggu ya?”
“Ya,
cepat ya, Bang?
“Iya,”
Argi
langsung mematikan telepon dan dengan segera ia menyimpan kembali Hpnya di saku
kemeja putihnya.
Setelah
itu, Argi kembali tancap gas untuk melanjutkan perjalanan, karena ia masih akan
melewati jalan yang panjang, karena rumahnya cukup jauh dari kantornya, yakni
di Kota Baru, dan harus menyeberangi dua jembatan tol Kapuas. Sementara saat
ini ia masih berada di Siantan, tak jauh dari kantornya.
Tampak
olehnya, penunjuk arah yang menunjukkan perempatan jalan yang jika belok kanan adalah
menuju pusat kota Pontianak dan itulah jalan pulangnya. Saat hampir sampai pada
perempatan jalan itu, ia pun harus menghentikan sementara laju motornya karena
lampu merah menyala.
Ia tak
sendiri, banyak pula kendaraan yang berhenti. Saat menunggu giliran lampu hijau
menyala, ia terkagetkan dengan seseorang mengendarai sepeda motor berwarna
merah yang belok kanan dan melaju begitu saja.
“Uh…
Apakah ia buta?” tanya hati kecilnya.
“Kalau
buta pasti tak bisa mengendarai motornya. Em, entahlah. Ia hampir saja membuang
nyawanya,” sambungnya dalam hati juga.
Memang,
dari arah yang akan Argi lalui tampak sepi, namun itu tetap salah karena orang
itu tidak menaati aturan lalu lintas yang ada.
Tak
lama kemudian lampu hijau pun menyala, ia mulai tancap gas perlahan-lahan.
“Teettt,
teettt, teettt…..”
Kembali
Argi terkagetkan. Tapi kali ini dengan suara klakson kendaraan yang berada di
belakang.
“Uh,
mengapa sih?, tak bisa sedikit sabarkah dia?” tanyanya dalam hati.
“Apa
ibunya juga kambuh magh, atau ada yang harus ia lakukan segera di tempat
tujuannya?” sambungnya juga dalam hati.
Ia
mencoba tenang dan sabar sambil tetap tancap gas, perlahan-lahan, dan mulai
melaju perlahan.
***
Perjalanan
Argi masih jauh, belum setengah dari jarak kantor dengan rumahnya. Belum lama
ia melewati jembatan Tol Kapuas yang pertama dan perjalanannya kembali
terhambat saat hendak melewati jembatan Tol Kapuas yang kedua, karena banyaknya
kendaraan yang melintas dari arah yang berlawanan maupun yang searah dengannya.
Kemacetan
cukup panjang ini membuat Argi termenung. Dengan raut wajah yang tampak
risau, ia teringat dengan orang di lampu merah tadi.
“Dia
bisa, mengapa aku tidak!” serunya dalam hati.
“Aku
bisa segera pulang,” Argi mulai berfikiran negatif.
Perlahan-lahan
ia menarik gas sepeda motornya menelusuri sela-sela kendaraan, berusaha untuk
segera keluar dari kemacetan.
Usahanya
berhasil, sekarang ia berada di depan dan lebih dahulu terlepas dari kemacetan
dari pada kendaraan yang berada di dekatnya di belakang, tadi.
***
Jembatan
Tol Kapuas yang kedua pun telah ia lewati. Untuk kesekian kalinya, ia harus
mengendurkan gas sepeda motornya dan berhenti, karena lampu merah kembali
menyala, perempatan jalan lagi.
Argi
berada cukup jauh dibelakang.
“Aku
bisa,” ucapnya pelan.
Argi
melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya, yakni menelusuri sela-sela kendaraan.
Ini tak lain, agar ia bisa segera sampai ke rumah.
“Teeettt,
teeettt, teeettt…”
Klakson
kendaraan didekatnya berbunyi berulang-ulang. Teriakkan pun tak sedikit ia
dapatkan dari orang-orang yang berhasil ia lewati.
“Sabar
lah…”, “Antri…”, “Tertib…”
Entah
apa yang merasuki pikirannya.
***
Lampu
hijau pun menyala. Ia masih berada di tengah-tengah kepadatan kendaraan.
Perlahan-lahan
ia bergerak ke depan. Namun, lampu hijau tinggal 5 detik menyala. Argi yang
berada hanya satu kendaraan di belakang mencoba untuk berada di depan.
5, 4,
3, 2, 1…. Lampu merah kembali menyala.
“Bakalan
lama ni,” fikirnya.
Ia
yang terlanjur berada di depan langsung menarik cepat gas sepeda motornya.
“BRRRMMMMM…..”
Argi melanggar lampu merah. Ia melaju, belok kanan dengan senyum di wajahnya.
Sedikit
lagi ia akan melewati perempatan jalan, namun naas.
“AWWW,”
Argi berteriak keras.
Sepeda
motor yang dikendarainya bersenggolan dengan sepeda motor yang ukurannya lebih besar
dari sepeda motornya. Sepeda motornya pun oleng, senget ke kiri.
“BrRoKk…”
Argi menabrak trotoar dan terjatuh.
Celananya
sobek dibagian lutut dan lutunya berdarah. Ia berusaha bangkit, namun tak bisa
karena kaki kirinya tertimpa sepeda motornya.
Tampak
olehnya seorang beseragam berlari kearahnya, menghampirinya.
“Polantas!!!”
seunya dalam hati.
Wajah
Argi berbagai ekspresi, malu, sakit, takut, bahkan senyum pun terpancar di
wajahnya.
“Ayo,
Dek!” Pak Polantas membantunya.
“I ii
yya, Pak” Argi tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menuruti perintah Pak
Polantas.
***
Kini
Argi berada di Pos Polantas. Ia ditanya dengan berbagai pertanyaan.
Argi
hanya bisa bicara jujur, sejujur-jujurnya. Ia mengaku bahwa ia bersalah dan ia berjanji
untuk tidak melanggar peraturan lagi.
Hampir
setengah jam ia ditanya-tanya. Sepertinya Pak Polantas tidak marah dan Argi pun
diperbolehkan pulang.
“Terima
kasih ya, Pak” ucap Argi sambil bersalaman kepada Pak Polantas.
“Iya.
Lain kali hati-hati, ya?” ujar Pak Polantas.
“Ingat,
lebih baik kehilangan satu menit dalam hidup, dari pada kehilangan hidup dalam
satu menit,” lanjut Pak Polantas.
“Siap,
Pak!” Argi hormat, senyum.
Pak
Polantas membalas hormatnya. Ia langsung menyalakan sepeda motornya, dan BRrrrMmmm...,
ia kembali ke jalan raya, syukur.
***
Kini
Argi melaju tertib. Ia mentaati semua aturan lalu lintas. Bahkan dalam hatinya
terlintas ucapan, “aku akan tertib disegala hal”.
“Semoga
ini yang terakhir”
“Semoga
tak ada yang sepertiku,”
“Seandainya
semua bisa tertib, pasti bisa nyaman,”
“…”
“…”
Banyak
ucapan yang terucap dari mulut Argi. Ia tak henti-hentinya memanjatkan doa,
syukur atas keselamatan dari Allah, Tuhan YME, dan ia juga tak henti-hentinya
berandai-andai,
“semoga
negeri ini bisa tertib dan orang negeri bisa lebih menertibkan negeri ini”.
***
Kurang
lebih lima belas menit di perjalanan, Argi pun sampai di rumah sederhananya di
Kota Baru, di Gang PGA nomor 18 F.
“Assalamu’alaikum,”
ucap Argi.
Tak
ada jawaban. Ia langsung membuka pintu, masuk dan menuju ke kamar ibunya.
“Bang
Argi datang, Bu” Ita, adik Argi mengucap pelan.
“Ini
obat ibu,” Argi memberikan obat itu kepada Ita.
Tak
menunggu lama, Ita langsung meminumkannya kepada ibunya tercinta. Kini semua
baik-baik saja. Ibunya mulai enakan.
“Abang
gak apa-apa?” tanya Ita dengan heran, karena melihat Abangnya diperban
dilengannya dan celananya sobek di bagian lutut.
“Iya.
Kamu kenapa, Nak?” Ibunya juga bertanya.
“Begini…………………………………………………………..”
Argi menjelaskan panjang lebar dari apa yang terjadi padanya di jalan.
Tak
ada komentar berarti, yang jelas Argi menyadari dan berjanji untuk lebih tertib
dan hati-hati.
Semua
baik-baik saja. (*) #cerpen kalbar
(Maaf, jika sama tempat dan nama)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar