28/09/15

CERPEN: Filosofi Angka 8

 


Ipan merupakan seorang anak pedalaman yang sedang duduk dibangku kelas 2 SMP. Jarak antara rumah dengan sekolahnya memakan waktu sekitar 100 menit jalan kaki, maklumlah karena disana tidak ada sepeda. Ada dua jalan yang bisa ia lewati untuk pulang dan pergi sekolah. Satu jalan yang ramai dilewati masyarakat di sana, namun 100 menit lebih waktu yang harus dihabiskannya jika lewat jalan itu. Satu jalannya lagi tidak akan sampai 100 menit, namun sangat sepi dan jarang dilewati.
Biasanya Ipan berangkat ke sekolah dengan dua teman setianya, Edo dan Rina. Namun entah kenapa hari itu ia telat bangun, ibu dan ayahnya sudah berangkat ke sawah. Akhirnya ia bergegas bersiap-siap karena takut terlambat. Ia pun mulai tergesa-gesa.
Rumah Ipan memang lebih jauh daripada Edo dan Rina, makanya tidak mungkin kedua temannya itu menyusulnya. Setiap harinya juga Ipan yang menyusul kedua temannya. Tapi hari ini tidak, tidak juga kebalikannya. Ipan berangkat dan terus berjalan cepat karena takut terlambat.
Memang kenyataannya, Edo dan Rina yang bersebelahan rumahnya memang sudah tidak ada, mereka sudah berangkat ke sekolah. Akhirnya, tanpa pikir apa-apa, Ipan langsung pilih jalan pintas yang sepi agar cepat sampai dan tidak terlambat.
“Aduh, bagaimana ini? Bisa terlambat, nih?..” keluhnya dalam hati namun terus berjalan agak berlari. Rumput liar nan hijau mulai menyelimuti coklat tanah karena sangat jarang sekali telapak kaki melangkah di sana, sehingga rumput tumbuh dengan lebih leluasa.
Ipan tak perduli, yang jelas “Aku harus cepat, tak boleh terlambat,” tegasnya dalam hati. Ia tak ingat lagi, berapa bulan sudah ia tak melewati jalan itu, atau sudah setahunan lebih, yang jelas tak ada yang beda menurutnya kecuali rumput liar.
Ditengah-tengah perjalanan ia dikejutkan dengan sebuah bangunan rumah tua. Karena seingat-ingat dia, rumah itu sebenarnya tidak ada. Memang jaraknya jauh dari pinggir jalan, namun ia sangat penasaran. Apa selama ini ia yang tidak menyadari? Sejenak ia berhenti melangkahkan kaki dan melihat dengan tajam bangunan yang mulai terhiasi tanaman liar hijau hingga ke atas atapnya.
Sinar matahari dari celah pohon rindang tiba-tiba menyilaukan matanya, ia langsung tersadar bahwa ia pasti sudah terlambat ke sekolah. Ia pun berlari lagi, tapi rasa penasarannya masih menjanggal di hatinya.
***
Pulang sekolah.
“Do, Rin, tadi aku lewat jalan pintas, lho!” Ujar Ipan kepada Doni dan Rina sambil berjalan meninggalkan sekolah papan kebanggaannya.
“Haa?” Rini heran bertanya. “Aku gak pernah lewat situ lagi,” sambung Rini.
“Iya, aku juga gak pernah. Sudah setahun lebih aku gak lewat sana,” sahut Doni.
“Tadinya aku juga terpaksa, tapi aku melihat sesuatu di sana? Aku penasaran dibuatnya,” Ipan membuat temannya penasaran.
“Apa??.” Apa?..” tanya Doni dan Rina serentak.
“Makanya sekarang aku ajak kalian lewat situ, biar kalian tahu. Pasti kalian belum tahu.” Ipan merayu.
“Gak ah,” tolak Rina.
“Kenapa, Rin? Kita kan bertiga!” sahut Doni.
“Iya, hari ini saja, kok,” Ipan membenarkan.
“Ya sudah deh, aku ikut kalian saja, dari pada pulang sendirian,” Rina mengalah.
Mereka bertiga pun sepakat melewati jalan pintas yang sepi itu.
Mereka berjalan santai. Beberapa kali Doni dan Rina bertanya, apa yang ingin Ipan perlihatkan. Ipan tak mau memberitahukan dan membuat temannya semakin penasaran. Mereka terus berjalan.
“Itu dia,” Ipan menunjuk dengan telunjuknya rumah tua itu. Memang itu yang ingin diperlihatkannya pada kedua temannya.
“Itu rumah siapa? Sudah tua, tapi aku baru melihatnya,” Doni keheranan.
“Itu dia yang aku pertanyakan,” jawab Ipan.
“Boleh tidak kita mendekat ke sana sampai masuk kedalamnya?” ajak Doni.
“Boleh saja, siapa yang melarang, kan?” jawab Ipan lagi.
Yang tadinya hanya diam dan melihat saja, tiba-tiba Rina bersuara pelan, “Oh. ini rumahnya!!!”
Mendengar ucapan itu, Ipan spontan bertanya, “Kamu tahu, Rin?” “Rumah siapa?” lanjut Doni.
Rina seperti mengingat-ingat. Tapi ia malah bilang, “Aku lupa..” Ipan dan Doni jadi kesal dibuatnya.
“Hmmm, dasar Rina. Ya sudah, ayo mendekat ke sana!” ajak Ipan.
“Ayo,” jawab Doni.
“Tunggu, jangan sembarangan ke sana, nanti ada apa-apa. Ayahku pasti tahu, karena aku pernah dengar dari ayahku,” jelas Rina. “Besok kan hari minggu, jadi besok saja ke rumah itu, biar aku tanya ayahku dulu,” lanjut Rina.
Ipan dan Doni memikirkan.
“Benar juga, tuh,” tanggap Ipan.
“Okelah kalau begitu,” tanggap Doni juga.
Mereka bertiga pun pulang dengan Doni dan Ipan yang masih penasaran.
***
Keesokan harinya, hari minggu. Pagi-pagi sekali Ipan sudah di rumah Doni, mengajak Doni ke rumah Rina. Sampai di rumah Rina, mereka bertiga sudah siap semua.
“Bagaimana, Rin? Dapat info apa tentang rumah itu?” tanya Ipan
“Ayahku bilang, itu rumah pemilik kebun karet yang memang sudah lama tidak ada yang menempatinya,” jawab Rina.
“Cuma itu saja?” tanya Ipan lagi. Rina hanya menganggukkan kepala.
“Jadi, kita jadi kan ke sana?” sekarang Doni yang bertanya.
“Jadi dong, aku juga penasaran seperti kalian,” jawab Rina. “Yuk, berangkat sekarang, mumpung masih pagi,” sambung Rina lagi.
Mereka pun berjalan dengan rasa penasaran. Dalam perjalanan mereka saling bertanya dan menjawab satu sama lain tentang apa kira-kira yang akan mereka temu di dalam rumah itu nanti. Memang begitulah sikap mereka yang layaknya remaja lain yang selalu ingin tahu dan mencoba hal baru.
Sekitar 40 menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di depan rumah itu. Di samping pintu tertulis angka 8 yang mereka yakin artinya rumah itu adalah nomor 8.
“Rumah nomor 1 di jalan ini mana, ya?” Rina bertanya entah kepada siapa.
“Mana ada lagi rumah di jalan ini,” Doni menanggapi.
“Iya sih, tapi mungkin pernah ada, kita saja yang tidak mengetahuinya,” Ipan juga berkata.
Ipan, Doni dan Rina mulai heran, kenapa rumah tersebut nomor 8? Kan di sekitar situ tidak ada rumah lagi, rumah itulah satu-satunya yang ada di sana.
Dengan berani, Doni mulai memegang gagang pintu dan mencoba membukanya. Perlahan, namun pasti. Apa yang terjadi? Ipan dan Rina hanya melihat saja. Setelah pintu sedikit terbuka, alangkah terkejutnya mereka bahwa di dalam rumah itu tidak ada apa-apa, hanya lantai kosong. Tak berhenti sampai di sini, mereka memberanikan diri untuk masuk lebih dalam lagi.
Rumah itu tidak terlalu besar, dinding kosong, tidak ada langit-langit ruangan, tidak juga punya kamar, tapi ada sebuah lemari yang lumayan besar di dinding bagian dalam.
Sekarang mereka sudah ditengah-tengah rumah. Suasana hanya remang-remang karena cahaya hanya masuk lewat fentilasi dan pintu yang tadi dibuka Doni.
“Tidak ada apa-apa,” tukas Rina.
“Iya, apa yang kita harapkan dari rumah ini?” tanya Doni.
“Tunggu dulu, lihat-lihat saja dulu,” jawab Ipan.
Ipan melangkah, meninggalkan kedua temannya, mendekati lemari yang cukup besar di ujung dinding sana. Doni dan Rina pun mulai mengikuti di belakangnya. Kini mereka bertiga berada tepat di depan lemari tanpa kaca. Tatapan mereka tertuju ke satu arah, satu benda, karena benda itu memang satu-satunga yang ada di situ. Warnanya cantik, keemasan. Ukurannya seperti dua kepala yang di himpitkan. Bentuknya ya seperti itu, seperti kotak tapi lebih mirip bola lonjong yang bagian atas dan bawahnya datar.
Segera Rina mengambilnya. Sepertinya tidak terlalu berat, namun sedikit merubah wajah Rina saat mengangkatnya.
“Wah..” Rina kagum melihatnya.
“Ini apa, ya?” Ipan lalu bertanya.
Sambil terus melihat dan memegang dasar benda yang ada ruang di dalamnya itu, Ipan dan Rina mulai memikirkan apa kira-kira yang ada di dalamnya. Tiba-tiba Doni bersuara, “Itu, HARTA KARUN...”
“Haa..???” Ipan dan Rina kaget sekali mendengarnya dengan sedikit bertannya-tanya.
“Tidak salah lagi, ini namanya rezeki. Yuk, bawa pulang saja kotak itu,” ajak Doni.
“Tapi, bagaimana membukanya?” tanya Ipan. “Iya, bagaimana?” Rina juga bertanya.
Memang kotak itu tertutup rapat. Hanya ada 8 kotak kunci berbentuk angka yang mereka tidak tahu dan mereka terus mencobanya.
“Bawa pulang saja dulu, ayo,” ajak Doni lagi.
Tanpa pikir apa-apa lagi, Ipan dan Rina langsung menuruti kata Doni. Kali ini, Ipan yang membawa kotak yang sebenarnya tidak berbentuk kotak itu keluar rumah dan mereka langsung pulang. Dalam perjalanan mereka saling mengira-ngira dan menerka apa isi kotak itu sebenranya.
***
Mereka sampai di rumah Rina. Kali ini Doni yang membawa kotak itu. Karena memang di sepanjang jalan Doni dan Ipan bergantian membawanya.
“Di rumahku tidak ada siapa-siapa,” ujar Rina. “Kita ke rumah kamu saja ya, Don,” pinta Rina.
“Boleh, tapi kamu lagi bawa ini, Pan,” Doni memberikan kotak itu pada Ipan.
“Iya, sini kotaknya,” Ipan nurut saja.
Sesampainya di rumah Doni, ayah Doni di depan rumah yang melihat mereka membawa kotak itu langsung bertanya, “Apa itu?”
Dengan datarnya Doni menjawab, “Harta Karun, yah.” Padahal ia sendiri belum tahu apa isinya.
Ayahnya kaget, orang yang kebetulan lewat yang mendengar ucapan Doni pun kaget. Orang-orang itu pun mendekat dan ingin melihat. Salah satu dari orang itu pergi berlari sambil berteriak kegirangan, “Harta karun.. Doni punya harta karun..” orang itu terus berteriak begitu.
Tak sampai 10 menit, orang kampung pun sudah ramai di depan rumah Doni, termasuk ayah dan Ibu Rina.
“Mana?”
“Cepat buka,”
“Kita akan kaya raya,”
“Jangan lama-lama..”
“...”
Banyak sekali teriakan warga yang memadati depan rumah Doni.
“Ini pasti karena anakku juga,” ayah Rina mengambil paksa dan mencoba membukanya.
Beberapa warga mengambil paksa dari ayah Rina. Sekarang kotak itu berada di tangan warga, diletakkan di tanah dan coba membuka dengan memutar delapan roda angka tersebut. Beberapa menit berlelu, kotak itu belum juga terbuka. Tak ada yang benar menempatkan 8 susunan angka. Ayah Doni mulai tidak terima, Ayah Rina juga, ia masing-masing menganggap itu tetap milik anaknya. Akhirnya kampung jadi ribut. Kotak pun jadi rebutan. Kotak itu terus diperebutkan. Tak ada yang mau mengalah.
Tiba-tiba datang ayah Ipan dari arah belakang.
“BERHENTI SEMUANYA...” tegasnya yang kebetulan memang orang yang dituakan di kampung itu.
“Apa-apa ini.. seperti anak kecil..” tegas ayah Ipan lagi.
Semuanya diam. Kotak itu dibiarkan di tanah. Doni dan Ipan mengambilnya dan membawa kotak itu ke depan ayah Ipan.
“Kalian belum tahu kan apa isi kotak ini. Kalian tahu bagaimana membukanya?” semua menggelengkan kepala.
“Kenapa semua jadi begini? Ini hanya teka-teki,” tegas ayah Ipan lagi.
Semua terdiam. Wajah malu mulai terpancarkan, dari Ayah Doni, Rina dan warga lainnya.
“Kenapa?” tanya salah seorang warga.
“Iya.. kenapa?”
“..” suasana jadi ribut lagi.
“Semuanya dengar,” tegas ayah Ipan. Seketika semuanya jadi tenang, “Doni, Ipan, Rina, berapa nomor rumah tempat kalian mengambil kotak ini?”
“Delapan.” Ipan, Rina dan Doni menjawab serentak.
“Kotak ini tidak berbentuk kotak, tapi lebih mirip angka berapa?” tanya ayah Ipan lagi.
Warga dengan serentak menjawab, “Delapan.”
“Sekarang lihat ukiran berbentuk lingkaran-lingkaran di bagian atas kotak ini,” semua mendekat dan melihat. “itu berbentuk angka 8,” terus ayah Ipan menjelaskan. “Ada berapa angka 8?” tanya ayah Ipan dan warga mulai menghitung, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8. Semuanya mengucap “Delapan.”
“Jadi kode kotak ini adalah 8 angka 8.” Ayah Ipan langsung memutar roda angka yang ada di sisi depan kotak itu menjadi 88888888, dan kotak itu seketika terbuka. Warga heran, wajah mereka semakin malu, apalagi melihat isi kotak itu adalah hanya sehelai kertas.
Ayah ipan mengambil kertas itu dan membacakannya, “Filosofi angka 8, angka 8 untuk kehidupan. berbentuk tikungan, tapi hanya itulah jalan. Artinya, kehidupan di dunia memang berliku, tetapi kita harus tetap pada jalan itu, untuk mencapai sesuatu atau keinginan yang di tuju.”
Semua tersipu malu, satu persatu mulai berlalu. Pergi meninggalkan sesuatu yang mereka tidak tahu. (*)




Biodata Penulis

Nama                      : Lukmanul Hakim
Jenis Kelamin         : Laki-laki
TTL/Umur              : Sungai udang, 24 Januari 1997/ 18 tahun
Alamat                    : Jl. Danau Sentarum Gg. Matraman No. A1 Pontianak
Handphone             : 0895-1657-6768
Email                      : lukmanulhakim.ma@gmail.com

Tidak ada komentar:
Tulis komentar