
CERPEN: Filosofi Angka 8
Biasanya Ipan
berangkat ke sekolah dengan dua teman setianya, Edo dan Rina. Namun entah
kenapa hari itu ia telat bangun, ibu dan ayahnya sudah berangkat ke sawah.
Akhirnya ia bergegas bersiap-siap karena takut terlambat. Ia pun mulai
tergesa-gesa.
Rumah Ipan
memang lebih jauh daripada Edo dan Rina, makanya tidak mungkin kedua temannya itu
menyusulnya. Setiap harinya juga Ipan yang menyusul kedua temannya. Tapi hari
ini tidak, tidak juga kebalikannya. Ipan berangkat dan terus berjalan cepat
karena takut terlambat.
Memang
kenyataannya, Edo dan Rina yang bersebelahan rumahnya memang sudah tidak ada,
mereka sudah berangkat ke sekolah. Akhirnya, tanpa pikir apa-apa, Ipan langsung
pilih jalan pintas yang sepi agar cepat sampai dan tidak terlambat.
“Aduh,
bagaimana ini? Bisa terlambat, nih?..” keluhnya dalam hati namun terus berjalan
agak berlari. Rumput liar nan hijau mulai menyelimuti coklat tanah karena
sangat jarang sekali telapak kaki melangkah di sana, sehingga rumput tumbuh
dengan lebih leluasa.
Ipan tak
perduli, yang jelas “Aku harus cepat, tak boleh terlambat,” tegasnya dalam
hati. Ia tak ingat lagi, berapa bulan sudah ia tak melewati jalan itu, atau
sudah setahunan lebih, yang jelas tak ada yang beda menurutnya kecuali rumput
liar.
Ditengah-tengah
perjalanan ia dikejutkan dengan sebuah bangunan rumah tua. Karena seingat-ingat
dia, rumah itu sebenarnya tidak ada. Memang jaraknya jauh dari pinggir jalan,
namun ia sangat penasaran. Apa selama ini ia yang tidak menyadari? Sejenak ia
berhenti melangkahkan kaki dan melihat dengan tajam bangunan yang mulai
terhiasi tanaman liar hijau hingga ke atas atapnya.
Sinar matahari
dari celah pohon rindang tiba-tiba menyilaukan matanya, ia langsung tersadar
bahwa ia pasti sudah terlambat ke sekolah. Ia pun berlari lagi, tapi rasa penasarannya
masih menjanggal di hatinya.
***
Pulang
sekolah.
“Do, Rin, tadi
aku lewat jalan pintas, lho!” Ujar Ipan kepada Doni dan Rina sambil berjalan
meninggalkan sekolah papan kebanggaannya.
“Haa?” Rini
heran bertanya. “Aku gak pernah lewat situ lagi,” sambung Rini.
“Iya, aku juga
gak pernah. Sudah setahun lebih aku gak lewat sana,” sahut Doni.
“Tadinya aku
juga terpaksa, tapi aku melihat sesuatu di sana? Aku penasaran dibuatnya,” Ipan
membuat temannya penasaran.
“Apa??.”
Apa?..” tanya Doni dan Rina serentak.
“Makanya
sekarang aku ajak kalian lewat situ, biar kalian tahu. Pasti kalian belum
tahu.” Ipan merayu.
“Gak ah,”
tolak Rina.
“Kenapa, Rin?
Kita kan bertiga!” sahut Doni.
“Iya, hari ini
saja, kok,” Ipan membenarkan.
“Ya sudah deh,
aku ikut kalian saja, dari pada pulang sendirian,” Rina mengalah.
Mereka bertiga
pun sepakat melewati jalan pintas yang sepi itu.
Mereka
berjalan santai. Beberapa kali Doni dan Rina bertanya, apa yang ingin Ipan
perlihatkan. Ipan tak mau memberitahukan dan membuat temannya semakin
penasaran. Mereka terus berjalan.
“Itu dia,”
Ipan menunjuk dengan telunjuknya rumah tua itu. Memang itu yang ingin
diperlihatkannya pada kedua temannya.
“Itu rumah
siapa? Sudah tua, tapi aku baru melihatnya,” Doni keheranan.
“Itu dia yang
aku pertanyakan,” jawab Ipan.
“Boleh tidak
kita mendekat ke sana sampai masuk kedalamnya?” ajak Doni.
“Boleh saja,
siapa yang melarang, kan?” jawab Ipan lagi.
Yang tadinya
hanya diam dan melihat saja, tiba-tiba Rina bersuara pelan, “Oh. ini
rumahnya!!!”
Mendengar
ucapan itu, Ipan spontan bertanya, “Kamu tahu, Rin?” “Rumah siapa?” lanjut
Doni.
Rina seperti
mengingat-ingat. Tapi ia malah bilang, “Aku lupa..” Ipan dan Doni jadi kesal
dibuatnya.
“Hmmm, dasar
Rina. Ya sudah, ayo mendekat ke sana!” ajak Ipan.
“Ayo,” jawab
Doni.
“Tunggu,
jangan sembarangan ke sana, nanti ada apa-apa. Ayahku pasti tahu, karena aku
pernah dengar dari ayahku,” jelas Rina. “Besok kan hari minggu, jadi besok saja
ke rumah itu, biar aku tanya ayahku dulu,” lanjut Rina.
Ipan dan Doni
memikirkan.
“Benar juga,
tuh,” tanggap Ipan.
“Okelah kalau
begitu,” tanggap Doni juga.
Mereka bertiga
pun pulang dengan Doni dan Ipan yang masih penasaran.
***
Keesokan
harinya, hari minggu. Pagi-pagi sekali Ipan sudah di rumah Doni, mengajak Doni
ke rumah Rina. Sampai di rumah Rina, mereka bertiga sudah siap semua.
“Bagaimana,
Rin? Dapat info apa tentang rumah itu?” tanya Ipan
“Ayahku
bilang, itu rumah pemilik kebun karet yang memang sudah lama tidak ada yang
menempatinya,” jawab Rina.
“Cuma itu
saja?” tanya Ipan lagi. Rina hanya menganggukkan kepala.
“Jadi, kita
jadi kan ke sana?” sekarang Doni yang bertanya.
“Jadi dong,
aku juga penasaran seperti kalian,” jawab Rina. “Yuk, berangkat sekarang,
mumpung masih pagi,” sambung Rina lagi.
Mereka pun
berjalan dengan rasa penasaran. Dalam perjalanan mereka saling bertanya dan
menjawab satu sama lain tentang apa kira-kira yang akan mereka temu di dalam
rumah itu nanti. Memang begitulah sikap mereka yang layaknya remaja lain yang
selalu ingin tahu dan mencoba hal baru.
Sekitar 40
menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di depan rumah itu. Di samping
pintu tertulis angka 8 yang mereka yakin artinya rumah itu adalah nomor 8.
“Rumah nomor 1
di jalan ini mana, ya?” Rina bertanya entah kepada siapa.
“Mana ada lagi
rumah di jalan ini,” Doni menanggapi.
“Iya sih, tapi
mungkin pernah ada, kita saja yang tidak mengetahuinya,” Ipan juga berkata.
Ipan, Doni dan
Rina mulai heran, kenapa rumah tersebut nomor 8? Kan di sekitar situ tidak ada
rumah lagi, rumah itulah satu-satunya yang ada di sana.
Dengan berani,
Doni mulai memegang gagang pintu dan mencoba membukanya. Perlahan, namun pasti.
Apa yang terjadi? Ipan dan Rina hanya melihat saja. Setelah pintu sedikit
terbuka, alangkah terkejutnya mereka bahwa di dalam rumah itu tidak ada apa-apa,
hanya lantai kosong. Tak berhenti sampai di sini, mereka memberanikan diri
untuk masuk lebih dalam lagi.
Rumah itu
tidak terlalu besar, dinding kosong, tidak ada langit-langit ruangan, tidak
juga punya kamar, tapi ada sebuah lemari yang lumayan besar di dinding bagian
dalam.
Sekarang
mereka sudah ditengah-tengah rumah. Suasana hanya remang-remang karena cahaya
hanya masuk lewat fentilasi dan pintu yang tadi dibuka Doni.
“Tidak ada
apa-apa,” tukas Rina.
“Iya, apa yang
kita harapkan dari rumah ini?” tanya Doni.
“Tunggu dulu,
lihat-lihat saja dulu,” jawab Ipan.
Ipan
melangkah, meninggalkan kedua temannya, mendekati lemari yang cukup besar di
ujung dinding sana. Doni dan Rina pun mulai mengikuti di belakangnya. Kini
mereka bertiga berada tepat di depan lemari tanpa kaca. Tatapan mereka tertuju
ke satu arah, satu benda, karena benda itu memang satu-satunga yang ada di
situ. Warnanya cantik, keemasan. Ukurannya seperti dua kepala yang di
himpitkan. Bentuknya ya seperti itu, seperti kotak tapi lebih mirip bola
lonjong yang bagian atas dan bawahnya datar.
Segera Rina
mengambilnya. Sepertinya tidak terlalu berat, namun sedikit merubah wajah Rina
saat mengangkatnya.
“Wah..” Rina
kagum melihatnya.
“Ini apa, ya?”
Ipan lalu bertanya.
Sambil terus
melihat dan memegang dasar benda yang ada ruang di dalamnya itu, Ipan dan Rina
mulai memikirkan apa kira-kira yang ada di dalamnya. Tiba-tiba Doni bersuara,
“Itu, HARTA KARUN...”
“Haa..???”
Ipan dan Rina kaget sekali mendengarnya dengan sedikit bertannya-tanya.
“Tidak salah
lagi, ini namanya rezeki. Yuk, bawa pulang saja kotak itu,” ajak Doni.
“Tapi,
bagaimana membukanya?” tanya Ipan. “Iya, bagaimana?” Rina juga bertanya.
Memang kotak
itu tertutup rapat. Hanya ada 8 kotak kunci berbentuk angka yang mereka tidak
tahu dan mereka terus mencobanya.
“Bawa pulang
saja dulu, ayo,” ajak Doni lagi.
Tanpa pikir
apa-apa lagi, Ipan dan Rina langsung menuruti kata Doni. Kali ini, Ipan yang
membawa kotak yang sebenarnya tidak berbentuk kotak itu keluar rumah dan mereka
langsung pulang. Dalam perjalanan mereka saling mengira-ngira dan menerka apa
isi kotak itu sebenranya.
***
Mereka sampai
di rumah Rina. Kali ini Doni yang membawa kotak itu. Karena memang di sepanjang
jalan Doni dan Ipan bergantian membawanya.
“Di rumahku
tidak ada siapa-siapa,” ujar Rina. “Kita ke rumah kamu saja ya, Don,” pinta
Rina.
“Boleh, tapi
kamu lagi bawa ini, Pan,” Doni memberikan kotak itu pada Ipan.
“Iya, sini
kotaknya,” Ipan nurut saja.
Sesampainya di
rumah Doni, ayah Doni di depan rumah yang melihat mereka membawa kotak itu
langsung bertanya, “Apa itu?”
Dengan
datarnya Doni menjawab, “Harta Karun, yah.” Padahal ia sendiri belum tahu apa
isinya.
Ayahnya kaget,
orang yang kebetulan lewat yang mendengar ucapan Doni pun kaget. Orang-orang
itu pun mendekat dan ingin melihat. Salah satu dari orang itu pergi berlari
sambil berteriak kegirangan, “Harta karun.. Doni punya harta karun..” orang itu
terus berteriak begitu.
Tak sampai 10
menit, orang kampung pun sudah ramai di depan rumah Doni, termasuk ayah dan Ibu
Rina.
“Mana?”
“Cepat buka,”
“Kita akan
kaya raya,”
“Jangan
lama-lama..”
“...”
Banyak sekali
teriakan warga yang memadati depan rumah Doni.
“Ini pasti
karena anakku juga,” ayah Rina mengambil paksa dan mencoba membukanya.
Beberapa warga
mengambil paksa dari ayah Rina. Sekarang kotak itu berada di tangan warga,
diletakkan di tanah dan coba membuka dengan memutar delapan roda angka
tersebut. Beberapa menit berlelu, kotak itu belum juga terbuka. Tak ada yang
benar menempatkan 8 susunan angka. Ayah Doni mulai tidak terima, Ayah Rina
juga, ia masing-masing menganggap itu tetap milik anaknya. Akhirnya kampung
jadi ribut. Kotak pun jadi rebutan. Kotak itu terus diperebutkan. Tak ada yang
mau mengalah.
Tiba-tiba
datang ayah Ipan dari arah belakang.
“BERHENTI
SEMUANYA...” tegasnya yang kebetulan memang orang yang dituakan di kampung itu.
“Apa-apa ini..
seperti anak kecil..” tegas ayah Ipan lagi.
Semuanya diam.
Kotak itu dibiarkan di tanah. Doni dan Ipan mengambilnya dan membawa kotak itu
ke depan ayah Ipan.
“Kalian belum
tahu kan apa isi kotak ini. Kalian tahu bagaimana membukanya?” semua
menggelengkan kepala.
“Kenapa semua
jadi begini? Ini hanya teka-teki,” tegas ayah Ipan lagi.
Semua terdiam.
Wajah malu mulai terpancarkan, dari Ayah Doni, Rina dan warga lainnya.
“Kenapa?” tanya
salah seorang warga.
“Iya..
kenapa?”
“..” suasana
jadi ribut lagi.
“Semuanya
dengar,” tegas ayah Ipan. Seketika semuanya jadi tenang, “Doni, Ipan, Rina,
berapa nomor rumah tempat kalian mengambil kotak ini?”
“Delapan.”
Ipan, Rina dan Doni menjawab serentak.
“Kotak ini
tidak berbentuk kotak, tapi lebih mirip angka berapa?” tanya ayah Ipan lagi.
Warga dengan
serentak menjawab, “Delapan.”
“Sekarang
lihat ukiran berbentuk lingkaran-lingkaran di bagian atas kotak ini,” semua
mendekat dan melihat. “itu berbentuk angka 8,” terus ayah Ipan menjelaskan.
“Ada berapa angka 8?” tanya ayah Ipan dan warga mulai menghitung, 1, 2, 3, 4,
5, 6, 7, 8. Semuanya mengucap “Delapan.”
“Jadi kode
kotak ini adalah 8 angka 8.” Ayah Ipan langsung memutar roda angka yang ada di
sisi depan kotak itu menjadi 88888888, dan kotak itu seketika terbuka. Warga
heran, wajah mereka semakin malu, apalagi melihat isi kotak itu adalah hanya
sehelai kertas.
Ayah ipan
mengambil kertas itu dan membacakannya, “Filosofi angka 8, angka 8 untuk kehidupan.
berbentuk tikungan, tapi hanya itulah jalan. Artinya, kehidupan di dunia memang
berliku, tetapi kita harus tetap pada jalan itu, untuk mencapai sesuatu atau
keinginan yang di tuju.”
Semua tersipu
malu, satu persatu mulai berlalu. Pergi meninggalkan sesuatu yang mereka tidak
tahu. (*)
Biodata Penulis
Nama : Lukmanul Hakim
Jenis Kelamin : Laki-laki
TTL/Umur : Sungai udang, 24 Januari 1997/
18 tahun
Alamat : Jl. Danau Sentarum Gg.
Matraman No. A1 Pontianak
Handphone : 0895-1657-6768
Email : lukmanulhakim.ma@gmail.com