Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

01/12/16

PUISI - Aku dan Kamu

 
Aku dan kamu
Bukanlah sedarah
Bukan keluarga
Bukan sesuku jua

Aku dan kamu
Tidak serumah tapi bagai tetangga
Tidak sekaki tapi selalu sehati
Tidak sekata tapi senada

Tapi kenapa ya?
Aku merasa
Kita lebih dekat daripada jari telunjuk dan jari tengah
Beda, terpisah... tapi tak ada batasannya

Memang
Kadang
Tapi jarang
Kita beda timbang
Tak sepandang

Inikah sahabat?
Biasa berdebat
Berbeda pendapat
Tapi tetap erat
Menjadikan hidup lebih semangat

Engkaulah sahabatku
Masalahku kau jadikan masalahmu
Senangmu kau haruskan juga menjadi senangku

28/10/15

PUISI: Terlanjur Ada

 

Kau bagai udara
Di kala pagi mulai menjelma
Di saat matahari di atas kepala
Di titik sore senja
Dan di waktu malam dengan kegelapannya
Kapan pun, engkau bagiku segalanya

Kau jadikan aku
Bagai cahaya di saat gelap-gulita
Bagai suara penyampai kata-berita

Sahabat...
Aku akan jadi air mata
Yang akan menetes dikala haru suka juga duka
Karena engkau adalah mimpi indah dikala aku memajamkan mata
Dan warna hidupku di dunia

Tanpa kamu,
Hidupku akan terasa kurang satu
Kuharap kau juga begitu
Dan karena begitu
Kita harus tetap bersatu

Meski tak secita
Kita harus setia
Kita harus tetap bersama
Menjadi sahabat untuk selamanya
Karena kita terlanjur ada


12/08/15

CERPEN: Duta Ingin Ke Kota

 


Libur semester kembali tiba. Sore ini sudah masuk hari ketiga. Duta duduk seorang diri di depan rumahnya menghadap ke arah sungai Kapuas. Namun, bukan hamparan sungai yang ia lihat, melainkan jauh ke sananya lagi, di seberang sungai itu. Di sana banyak bangunan tinggi nan kokoh. Di sana itu kota Pontianak, kota Khatulistiwa. Duta ingin sekali pergi ke sana.
Sejak SD kelas lima hingga saat ini libur semester pertama kelas tiga SMA, keinginannya untuk dapat pergi ke kota Pontianak belum dapat dicapainya. Ekonomi dan jarak kendalanya.
Rumah Duta terletak di atas sungai kapuas, sehingga sangat sulit untuk ke kota. Jauh dari daratan, tak punya kendaraan darat juga jadi permasalahan. Apalagi ayahnya hanya seorang nelayan. Ia hanya duduk santai sambil menghayal. Depan rumahnya hanya ada jalan papan yang saat ini didudukinya, yang menghubungkan satu rumah ke rumah lain di sekitar sana. Tak ada jalan raya, tak ada sepeda. Apalagi mobil, sudah pasti tidak ada.
Sekarang anak-anak sedang mandi, ibu-ibu mencuci dan para bapak menyiapkan sampan untuk bekerja sebagai nelayan. Waktu memang sudah sore. Namun Duta masih di posisinya melihat bangunan kota yang jauh di sana, dengan pandangan penuh harapan. Tersadar olehnya, “aku bukan siapa-siapa!” tapi bukan berarti ia menyerah. Ia akan tetap bersusaha.
“Duta... sudah mau malam. Ikan yang dijemur itu cepat dibawa masuk.”
“Iya, Bu.” Duta segera melakukan perintah ibunya. Hamparan ikan-kan kecil di atas terpal ditumpuk lalu di bawa masuk. Memang itu sudah menjadi rutinitas hariannya jika sedang tidak turun hujan. Ikan-ikan kecil itu adalah hasil kerja ayahnya sebagai nelayan.
***
“Duta.. panggil ayahmu. Makan malamnya sudah siap,” teriak pelan ibu dari dapur.
“Iya, Bu.” Duta berhenti baca buku dan membereskan buku-buku disekitarnya. Memang, meskipun sekarang masih waktu liburan, bagi Duta baca buku dan belajar tak ada kata libur, apalagi ia akan masuk semester dua kelas tiga yang berarti ia akan menghadapi ujian nasional. Duta bergegas keluar rumah memanggil ayahnya yang sedang melakukan entah apa di sampan tua kesayangannya.
“Yah, dipanggil ibu. Makan.”
“Iya, sebentar. Duluan saja.”
Duta tak menjawab lagi. Ia langsung masuk, menuju di mana makanan dihidangkan.
“Bu, ayah sebentar lagi katanya,” jelas Duta pada ibunya.
“Ya sudah, kamu duluan saja. Biar ibu menunggu ayahmu.”
Duta pun makan duluan. Di hadapannya ada nasi dan tiga jenis lauk dari ikan. Ikan goreng, ikan yang dagingnya di cabik-cabik dan disambal serta ikan masak kuah, semua serba ikan. Memang itu lauk yang sudah tak asing bagi Duta. Ia lahap saja memakannya. Tak lama, ibu dan ayah menghampirinya juga ikut makan. Mereka duduk membentuk lingkaran.
Awalnya tak ada pembicaraan saat makan, sang ayah membuka pembicaraan dengan membicarakan tentang menurunnya harga ikan. Tak lama, Duta lalu memotong pembicaraan.
“Bu, Yah, kapan Duta diajak ke kota?”
Ayahnya diam sejenak. Ibunya cepat-cepat menghabiskan makanan yang memang tinggal sedikit. “Ibu mau ke belakang,” ucap ibu langsung pergi ke dapur tak tahu kenapa. Duta tampak bingung, “Ada apa? Seperti ada yang berbeda.” Ibunya tampak termenung di dapur.
Ayahnya tersenyum. “Nanti kamu akan sampai ke kota. Kamu sabar saja. Ayah kan masih cari uang,” jelasnya lembut pada Duta.
“Tapi sampai kapan? Ayah selalu bilang begitu. Ayah hanya janji. Duta ingin sekali ke kota, Yah. Teman-teman Duta semuanya sudah sering ke sana,” rungut Duta.
“Ayah kan tidak diam. Ayah masih berusaha,” Suara ayahnya agak naik.
Senyum sang ayah hilang dengan wajah tampak menyesal. Duta pun tersadar dengan keadaan keluarganya saat ini. “Maaf, Yah. Besok Duta akan ikut ayah kerja, bantu ayah.”
Ayahnya mengangguk. Mungkin ayah kecewa pada dirinya sendiri. Tampaknya ia ingin sekali minta maaf pada Duta. Namun ia tak mampu mengucapkannya. Ibu datang membawa air dalam ceret serta dua gelas plastik. “Sudah selesai kamannya? ini minumnya,” ucap ibu lalu meletakkan di lantai. Semua sudah selesai makan.
***
Angin yang berhembus sangat sejuk terasa, sehingga Duta menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Rasa nyaman itu seolah membuat ia manja di atas tempat tidurnya yang tanpa ranjang, hanya kasur yang terletak di lantai.
Semakin lama semakin melengkung tubuh Duta merasa udara yang aduhai dinginnya. Hening subuh itu terpecahkan oleh suara ombak yang cukup kencang terdengar, hingga ia tak nyenyak tidur. Namun lebih dipecahkan lagi oleh suara ibu yang memanggilnya.
“Duta...!!!”
Duta hanya menjawab, “Mmm..?!!” Namun ia masih dalam selimut. Ia tak bergerak.
“Kamu bilang mau ikut ayahmu hari ini, cepat.... ayahmu sudah mau berangkat!”
Hmm,” gumam Duta masih dalam selimutnya. Hati kecilnya berkata, “Seandainya yang ibu maksud ikut ayah adalah untuk berangkat ke kota mengisi liburanku!.” Hati kecilnya menjawab lagi, “Ahk, tak mungkin itu terjadi sekarang karena kenyataannya yang ibu maksud adalah untuk ikut ayah berangkat bekerja.”
Langkah kaki ibu terdengar mendekatinya, hendak menariknya untuk bangun agar bisa segera menyusul ayah yang sudah menunggunya di sampan, di luar sana. Namun, baru saja tangan ibu menyentuhnya dari luar selimut, ibu merasakan panasnya tubuh Duta yang melengkung kedinginan dan menggigil. Ibu pun tersontak kaget.
“Duta, kamu sakit? Badanmu panas!”
Duta tak menjawab, ia masih menggigil dalam selimutnya.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar ibu bilang ke ayahmu kalau kamu tidak bisa ikut. Lagi pula masih ada Pak Lan. Biasa juga ayahmu berdua saja. Ya sudah!” Ibu Duta lalu keluar rumah menuju ayah Duta di sampan dan menyampaikan kalau Duta sakit dan jangan ikut kerja dulu.
Pagi telah tiba. Sinarnya sudah masuk melalui ventilasi rumah.
Seharusnya saat ini Duta berada di sungai, di atas sampan bersama ayahnya karena hari-hari dan liburan-liburan sebelumnya juga itu yang dilakukannya. Tapi hari ini ia sakit demam. Tubuhnya panas dan semakin panas.
Ibu menghampirinya, membawakannya semangkuk bubur ikan. Memang hanya bubur ikan yang bisa ibu siapkan. Jika ingin membuat bubur ayam, ibu harus jauh ke darat, ke pasar membeli ayam. Makanya ibu pilih yang mudah saja, lagi pula ibu rasa sama saja. Kalaupun berbeda, ya, tidak jauh berbeda.
Duta melawan rasa lemah yang semakin bertambah lemah pada tubuhnya. Ia bangun dan mendudukkan tubuhnya. Lalu mengambil semangkuk bubur ikan dari ibu dan memakannya. Satu, dua, tiga, hingga lima sendok ia makan. Ia berhenti lalu minum.
“Kalau sakit begini, bagaimana aku bisa cari uang untuk ke kota!” serunya dalam hati. Ia tampak yakin bahwa liburan kali ini ia akan pergi ke kota, menikmati suasana yang selama ini diidam-idamkannya. Ketika itu juga ia memutuskan kalau hari ini ia harus sembuh agar bisa bantu ayahnya mencari dan mengumpulkan uang lebih banyak. Sebab setahunya, di kota itu serba mahal. Meskipun ia bukan mau befoya-foya di sana. Ia hanya ingin lihat langsung kota yang selama ini menghantuinya, kota yang katanya begitu, begini, entah bagaimana sebenarnya yang dimaksud oleh teman-teman sekolahnya.
***
Hari berikutnya tiba. Pagi tadi sungguh cerah. Menjelang siang ini sinar mentari sungguh sangat teriknya. Di atas sampan di sungai, Duta dan ayahnya mendekati rumah dengan ayahnya yang mengemudikannya.
Memang sejak subuh tadi Duta memutuskan untuk ikut dengan ayahnya. Meskipun tubuhnya belum enakan, panas tubuhnya masih sedikit terasa, ia tetap bersikeras untuk ikut ayahnya karena ia berharap dengan ia ikut ayahnya bisa mendapatkan hasil yang lebih dari biasanya. Ayahnya lalu mematikan mesin sampan yang diarahkan mendekat ke depan rumah.
“Bu...!!!” teriak Duta yang masih di atas sampan bersama ayahnya.
Duta bergegas turun dari sampan. Ia menuju ke rumah. Belum masuk ke rumah, ibunya keluar memenuhi teriakannya.
“Iya, kenapa teriak-teriak?” tanya ibu dengan wajah cemas karena setahunya Duta anaknya itu sedang sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan Duta.
Namun dugaan ibu salah, Duta malah tersenyum dengan wajah senangnya. Ibu melihat ke arah Ayah Duta, suaminya, yang melihat ke arahnya menampakkan raut wajah yang bingung. Ibu jadi bingung, “Ada apa?” tanyanya pada Duta.
“Bu, hari ini dapat ikan banyak. Ikan Betutu besar dapat tiga, udang A dapat dua, yang B dapat empat. Semua sudah di jual. Uangnya lumayan banyak, lho!”
Ibu mulai paham kalau Duta sangat yakin bahwa liburan kali ini ia benar-benar akan pergi ke kota, ya dengan uang itu. Wajah ayah yang bingung juga ibu paham, sebab penghasilan yang lebih hari ini bukan berarti lebih, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Ibu hanya tersenyum dan mengucap “Syukurlah,” dan Duta kembali ke sampan membantu ayahnya. Duta senang sekali nampaknya.
***
Hari berikutnya. Ibu keluar rumah dengan pakaian biasa. Namun lebih rapi dari yang biasa. “Yah, ibu ke warung dulu, ya. Mau beli sayur,” pamit ibu pada suaminya.
“Iya,” jawab suaminya.
“Tidak keawalan, Bu?” tanya Duta yang juga ada di situ.
“Harus awal dong, nanti sayurnya habis jika telat perginya,” jawab ibu langsung berjalan di atas jalan papan meninggalkan rumah.
Hari ini Duta dan ayahnya memang tidak pergi karena sampan mereka ada yang bocor, sehingga inisiatif dari ayah untuk memperbaikinya hari ini, agar besok atau lusa bisa kembali kerja. Duta dan ayahnya mengangkat sampan yang tidak besar itu ke pinggir jalan papan depan rumahnya, lalu ditelungkupkan agar bisa menampal bagian yang bocor.
Bagi seorang nelayan sebenarnya tidak ada libur, karena memang tidak ada jadwal seperti pegawai negeri. Makanya hari ini ibu ingin buat sarapan pagi yang spesial dengan tidak hanya menggunakan ikan, tapi juga ada sayur atau yang lain.
Sekitar sepuluh menit berjalan kaki di atas jalan papan ke arah daratan, ibu pun sampai di warung yang masih di atas sungai. Memang warung di atas sungai ini hanya ada satu. Jika ingin ke warung lain harus berjalan lebih jauh lagi karena warung lainnya ada di darat sana.
“Bu Ida!” sapa Ibu Duta kepada penjaga warung yang memang kenal akrab dengannya.
“Eh, ibu, mau beli apa? Silahkan!” jawab Bu Ida, pemilik warung itu.
Setelah itu terjadilah perbincangan antara Ibu Duta dan Bu Ida yang panjang lebar sambil Ibu Duta memilah-milih apa-apa yang ingin ia beli. Akhirnya sampailah pada pembicaraan Bu Ida yang ingin belanja ke kota.
“Telurnya ada, Bu?” tanya Ibu Duta kepada Bu Ida.
“Maaf, lagi kosong. Sebenarnya sabtu besok saya mau ke kota, belanja. Tapi saya gak enak badan, padahal sudah jadwal seminggu sekali. Tidak mungkin suami saya pergi sendiri. Siapa yang mau bantu pegang barang-barang?!” jelas Bu Ida. “Kalau dari sini ke kota harus pergi pagi dan pulangnya siang. Tidak mampu saya kalau sedang sakit begini. Demam dari kemaren belum hilang juga,” sambungnya.
Ibu Duta sedikit tersentak mendengar ucapan Bu Ida. “Oh.. begitu..”
Ingin sekali Ibu mengatakan kalau anaknya Duta pasti mau jika diajak ke kota. Tapi, masalahnya Duta ingin keliling kota, bukan hanya ke pasar agen. Ibu termenung seketika. Kemudian ibu sadar dan membayar belanjaannya dan bergegas pulang. Entah apa yang ia pikirkan. “Pulang ya, Bu.”
“Iya, terima kasih,” jawab Bu Ida.
“Sama-sama.” Ibu mulai melangkah dan terus melangkah dan sekarang sekitar 20 meter lagi ibu sampai ke rumah. Ia melihat suami dan Duta anaknya masih mengurusi sampan. Dilihatnya juga wajah Duta yang tampak bersemangat dan bersungguh-sungguh. Ia tidak tega jika keinginan anaknya itu kembali tertunda untuk waktu yang begitu lama.
Sampai di rumah, ibu langsung masuk ke rumah, menyimpan belanjaan di dapur. Tiba-tiba dari dapur ibu meneriaki Duta. “Duta... kesini sebentar!”
Duta yang berada di luar sana tampak tak mendengar. Namun ayahnya mendengar. Sekali lagi ibu berteriak seperti tadi, ayah mendengar lebih jelas lagi.
“Duta, dipanggil ibumu, tu!” seru ayah pada Duta.
Untuk yang ketiga kalinya ibu berteriak seperti yang pertama. Yang ketiga kalinya ini Duta mendengarnya. Duta segera berlari kecil masuk ke rumah, menghampiri ibunya.
“Ada apa, Bu?”
“Ini, ibu ingin segera masak, tapi ibu lupa beli garam. Ibu kira masih ada, sudah habis ternyata. Bisa bantu ibu pergi ke warung sebentar kan? Ini uangnya...”
Ibu memberi Duta uang untuk membeli garam. Duta mengambilnya dan bergegas pergi. Duta tidak terlalu tergesa-gesa alias santai saja berjalan di atas jalan papan. Terus berjalan melewati satu rumah ke rumah berikutnya. Ia juga melirik ke arah sungai yang luas yang tak bisa dipungkiri sangat ia cintai. Itulah sungai kapuas. Sambil berjalan pelan, ia menyanyikan lirik demi lirik lagu sungai kapuas yang ia sangat hafal.
Hey.. sampan laju, sampan laju dari hilir sampai ke hulu
Sungai kapuas, sungguh panjang dari dolok membelah kote
Hey.. tak disangke, tak disangke dolok utan menjadi kote
Ramai pendudoknye, pontianak name kotenye
   Sungai kapuas punye cerite,
   Bile kite minom aeknye
   Biarpon pegi jaoh kemane
   Sungguh susah nak melupakkannye
   Hey.. kapuas... hey.. kapuas.
Berakhir lagu yang sangat asik ia nyanyikan, terhenti juga langkah kakinya. Ia sudah sampai di depan warung. Di warung masih ada Bu Ida. Tanpa basa-basi, Duta langsung membeli garam. “Bu Ida, beli garam, Bu?”
“Oh, berapa bungkus?.”
“Satu saja.”
Bu Ida mengambil sebungkus garam, memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam dan memberikannya kepada Duta. Duta pun mengambilnya lalu membayar dengan uang pas seribu rupiah.
“Tadi kan ibumu sudah kemari, belanja. Ibumu lupa ya?”
“Iya, habisnya ibu buru-buru katanya. Kalau begitu saya pulang dulu, ya, Bu.”
Duta berbalik badan dan mulai melangkah, satu langkah, dua langkah. “Duta!” ada suara memanggilnya. Suara itu dari arah belakangnya, tapi menurutnya itu bukan suara Bu Ida. Duta berbalik badan. Dilihatnya ada Pak Adi. Ya, memang Pak Adi yang memanggilnya tadi.
“Duta, kamu mau ikut bapak ke kota besok? Tapi pulangnya agak sore. Nanti bapak ajak kamu jalan-jalan dulu deh. Soalnya istri saya kan lagi sakit, barang warung sudah pada kosong. Bagaimana?”
Wah, mau, Pak, saya mau.”
“Kalau begitu, besok pagi kamu ke sini. Sepeda motor bapak ada di darat sana.”
“Iya. Kalau begitu saya pulang dulu, ya. Terima kasih.”
Kebahagaian sangat terpancar dari wajah Duta, senyum lebarnya dan ia berjalan cepat menuju rumahnya. Begitu bahagianya Duta mendapatkan kesempatan yang sudah bertahun-tahun dinantikannya.
Sesampainya di rumah, Duta membagikan kebahagiaannya pada ayah dan ibunya. Duta melihat kedua orang tuanya tampak senang mendengar ceritanya. Namun, di belakangnya tampak kekhawartiran dari kedua orang tuanya itu. Dari pagi itu, siang, sampai malamnya Duta terbayang-bayang bagaimana kota Pontianak yang ia akan ke sana. Bangunan sekolah, gedung-gedung perusahaan dan semua yang akan ia pandang. Bahagaianya luar biasa.
***
Hari yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Matahari belum nampak sinarnya, tapi Duta sudah rapi untuk segera pergi. Kebetulan subuh itu ayahnya juga siap untuk pergi bekerja. Ayahnya akan bekerja dengan Pak  Lan, seperti biasa dan kali ini pun menggunakan sampan Pak  Lan. Sebelum ayahnya berangkat, Duta menghadap ayahnya.
“Yah, uang kemaren masih ada, kan? Duta mau bawa, barangkali perlu.”
Ayah terdiam sejenak. “Duta, ayah minta maaf kalau kali ini tidak bisa bantu kamu. Uang kemaren sudah untuk bayar hutang,” jelas ayahnya. “Tapi, masih ada sepuluh ribu ni, bawa saja.”
Duta tertegun. Ayanya hanya punya uang sepuluh ribu rupiah. Ia jadi tidak enak mengambilnya. “Tidak usah saja, Yah. Duta kan hanya lihat-lihat, jadi tidak bawa uang juga tidak apa-apa.”
“Kamu yakin?” tanya ayahnya. Duta mengangguk. “Kalau begitu ayah pergi dulu, ya, pasti ayah sudah ditunggu. Kamu hati-hati!” Duta mengangguk lagi. Ayahnya langsung keluar rumah. Sementara ia masih di rumah menunggu pagi menjelma.
Sebentar lagi mau pagi. Tak biasanya ibunya belum bangun. Duta hendak membangunkan ibunya di kamar. Ia pun masuk ke kamar. Dilihatnya ibu tampak gelisah dalam selimut. Sesekali suara batuk ibu didengarnya.
“Ibu sakit?!!” ujarnya dalam hati. Ia langsung mendekati ibunya.
“Duta..” ucap ibunya pelan. Ibu membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh Duta wajah pucat ibu yang menggigil kedinginan. Duta merasa kening ibu dengan tangannnya. Panas sekali. Dengan tergesa-gesa ia mengambil air sungai yang dingin dan mengompreskan ke kening ibunya. Setelah itu Duta langsung masak bubur untuk ibunya.
Cahaya matahari sudah masuk lewat ventilasi. Sekarang sudah pagi. Duta belum pergi menemui Pak Adi yang mengajaknya ke kota hari ini karena ia mengurus ibunya. Dalam hatinya terucap, “Aku tidak boleh egois. Ayah kerja. Aku harus menjaga ibu yang sedang sakit. Tidak ke kota hari ini bukan masalah. Liburanku masih ada satu minggu.”
Dengan inisiatifnya sendiri, Duta memutuskan untuk tidak pergi hari ini. Sebab jika ia pergi dan pulangnya hampir sore, tidak ada yang mengurusi ibunya karena ayahnya sedang bekerja. Ia berlari ke rumah Pak Adi dan dengan berat hati ia menjelaskan semuanya.
“Duta? Sudah siap?” tanya Pak Adi menyambut kedatangannya.
“Maaf, Pak, saya ingin sekali ke kota karena saya belum pernah ke sana, tapi sekarang ibu saya sedang sakit, ayah saya kerja. Saya tidak bisa pergi hari ini. Tapi saya mohon untuk tetap bisa ikut ke kota dengan bapak, besok atau lusa atau kapan saja.”
“Oh, tidak masalah. Besok itu hari minggu, pasar agen tidak buka. Senin sampai jum’at saya kerja. Kalau sabtu depan bagaimana?”
“Iya, Pak, saya mau. Terima kasih.” Duta langsung pamit pulang dengan segera karena ibunya sendirian di rumah. Ia senang, masih ada kesempatan untuknya.
***
Menunggu hari sabtu berikutnya bukanlah waktu yang sebentar bagi Duta karena ia sudah tidak sabar untuk bisa pergi ke kota. Namun ia tak diam saja, ia menyempurnakan satu minggu sebelum hari sabtu dengan bekerja keras agar ia bisa bawa uang ke kota. Ia bekerja dengan semangat yang luar biasa. Dari pagi hingga malam ia tak bosan-bosannya bekerja. Ibu dan ayahnya senang sekali melihatnya.
Hari demi hari berganti. Hingga akhirnya hari yang ditunggu-tunggunya tiba, pada hari sabtu yang tampak mendung. Namun tak mengurangi semangatnya yang semakin bersinar nampaknya. Ia juga sudah berhasil mengumpulkan uang untuk pegangan. Memang luar biasa.
Karena jam menunjukkan sudah hampir jam enam pagi, ia pun sudah siap untuk berangkat. Tadi subuh, seperti biasa ayahnya sudah berangkat dan ibunya akan tinggal sendiri di rumah ini. Dari dalam rumah ia berjalan menuju depan rumah bersama ibu tercinta. Namun, ia belum bisa pamitan untuk segera berangkat karena hujan mulai turun. Duta pun mengutuskan untuk menunggu hujan berhenti sambil ngobrol dengan ibunya.
Semakin lama semakin lebat hujan turun, ditambah lagi petir yang menyambar-nyambar. Ombak pun naik ke jalan papan depan rumah yang percikannya sampai masuk ke rumah. Duta tetap sabar menunggu. Sementara ibu tampak khawatir.
“Ibu kenapa?” tanya Duta.
“Ayahmu! Ombak sedang besar,” cemas ibu.
“Ayah kan tidak sendiri. Ayah pasti baik-baik saja.” Duta berusaha menenangkan ibu.
Waktu terus berputar. Namun belum ada tanda-tanda kalau hujan akan reda. Sekarang sudah lewat jam sembilan. Lenyap sudah harapan Duta untuk bisa ke kota dan memang sudah tidak ada lagi kesempatan. Ia tak menyalahkan siapa-siapa. “Mungkin memang belum saatnya,” tukasnya dalam hati.
Tak lama datang sampan ayahnya. Ayahnya langsung turun dari sampan dan masuk ke rumah dengan basah kuyup. “Huu, ombaknya besar. Sampan sempan oleng dan kemasukan air. Makanya ayah langsung pulang,” cerita Ayah.
Ayah langsung melihat ke arah Duta. Ibu juga melihat Duta. Semua terdiam.
“Duta, sabar, ya. Ayah yakin, nanti pasti kamu bisa ke kota. Kamu bisa kemana pun yang kamu inginkan. Kamu kan anak ayah yang hebat,” hibur ayah.
“Iya, yah, Duta juga yakin.” Duta tegar.
***
Keesokan harinya di hari minggu yang cerah. Duta hanya duduk di depan rumahnya melihat seberang sungai sana, melihat bangunan dan gedung-gedung tinggi. Ia tak bersedih. Ia tetap semangat. Ia memang harus semangat karena sudah kelas 3 SMA dan besok adalah hari pertamanya di semester dua. (BERSAMBUNG)

10/04/15

CERPEN: Pesan Argi Untuk Negeri

 

Baru saja Argi mendapat pesan singkat di Hpnya.
Bang, Maagh ibu kambuh, dan obatnya sudah habis. Aku gak punya uang sama sekali. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?”.
Itu isi pesan singkat yang diterimanya, dan tertulis di Hpnya bahwa pengirim pesan singkat itu adalah Ita, adik kandungnya.
Argi segera bergegas untuk pulang, meskipun ia belum lama sampai di tempat kerjanya disalah satu Bank Syari’ah di Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak Utara.
Ia keluar dari ruang kerjanya di lantai dua dan turun ke lantai dasar. Di lantai dasar ia langsung menuju salah satu ruangan, yakni ruangan  Pak Danil, atasannya. Saat tepat di depan pintu, ia berhenti dan mengetuk pintu tersebut.
“Tok, tok, tok,” Argi mengetuk pintu.
“Siapa?” terdengar suara dari dalam.
“Saya, Pak, Argi,” ucap Argi yang masih berada di luar.
“Oh, silahkan masuk,” kata Pak Danil.
Argi pun membuka pintu dan masuk. Ia berjalan mendekati meja Pak Danil dan duduk di kursi yang berada tepat di depan meja Pak Danil.
“Ada apa, Gi?”
“Itu, Pak, m, m,”
“Itu apa?, bicara saja, jangan gugup”
Berat Argi bicara untuk minta izin pulang, karena tadi pagi ia telat datang dan sekarang harus izin pulang. Namun rasa itu dikuburnya dalam-dalam, karena ia sangat khawatir akan keadaan ibunya di rumah.
 “Anu, Pak. Saya mau izin pulang, karena penyakit magh ibu saya kambuh dan baru saja adik saya sms kalau obat ibu saya habis, dan adik saya gak punya uang, dan…”
“Ya, ya, silahkan,” potong Pak Danil.
Tanpa pikir panjang lagi, Argi langsung berdiri dari duduknya dan hendak keluar ruangan, pulang.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya sambil mengarahkan tangan kanannya di depan Pak Danil.
“Ya,” jawab Pak Danil sambil meraih tangan Argi, bersalaman.
Argi langsung keluar ruangan, menuju pintu kantor dan keluar menuju tempat parkir, mengambil motornya. Ia langsung menyalakan motornya dan langsung tancap gas, Brmmm….
***
Argi merupakan sarjana Ekonomi di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam) Pontianak, dan Ita, adiknya adalah siswi kelas XII di SMAN 8 Pontianak, dan mereka berdua adalah Yatim, karena Ayahnya telah meninggal setahun yang lalu. Kini tinggallah Argi, adiknya Ita dan Ibu tercinta.
***
Ita tidak sekolah hari ini, karena guru-guru di sekolahnya ada rapat. Jadi ia bisa menjaga ibunya. Kalau ia sekolah, terpaksa ibunya harus dititipkan di rumah Bi Eli, adik ibunya yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumahnya.
***
Tak jauh dari kantornya, ia berhenti tepat di depan sebuah apotik untuk membeli obat ibunya yang habis. Saat sedang membeli obat, Hp Argi berbunyi, tanda ada yang menelpon.
“Cong, cong, cong, kopi pancong. Tak be-duet kopi la pancong,…”
Pemuda Pontianak pasti tahu lagu ini, meskipun hanya mendengarnya sekilas. karena lagu yang liriknya menggunakan bahasa melayu Pontianak ini sangat mencirikan pemuda yang cinta tanah khatulistiwa.
Dengan segera Argi mengambil Hp di saku celananya, karena Hp tersebut berbunyi. Dilihatnya, ternyata Ita, adiknya yang menelpon, dan dengan segera ia menjawab panggilan di Hpnya itu.
“Assalamu’alaikum,”
“Ada apa, Ta?” sambungnya.
“Bang Argi dimana?, pulang- kan?”
“Iya, sudah di jalan. Tunggu ya?”
“Ya, cepat ya, Bang?
“Iya,”
Argi langsung mematikan telepon dan dengan segera ia menyimpan kembali Hpnya di saku kemeja putihnya.
Setelah itu, Argi kembali tancap gas untuk melanjutkan perjalanan, karena ia masih akan melewati jalan yang panjang, karena rumahnya cukup jauh dari kantornya, yakni di Kota Baru, dan harus menyeberangi dua jembatan tol Kapuas. Sementara saat ini ia masih berada di Siantan, tak jauh dari kantornya.
Tampak olehnya, penunjuk arah yang menunjukkan perempatan jalan yang jika belok kanan adalah menuju pusat kota Pontianak dan itulah jalan pulangnya. Saat hampir sampai pada perempatan jalan itu, ia pun harus menghentikan sementara laju motornya karena lampu merah menyala.
Ia tak sendiri, banyak pula kendaraan yang berhenti. Saat menunggu giliran lampu hijau menyala, ia terkagetkan dengan seseorang mengendarai sepeda motor berwarna merah yang belok kanan dan melaju begitu saja.
“Uh… Apakah ia buta?” tanya hati kecilnya.
“Kalau buta pasti tak bisa mengendarai motornya. Em, entahlah. Ia hampir saja membuang nyawanya,” sambungnya dalam hati juga.
Memang, dari arah yang akan Argi lalui tampak sepi, namun itu tetap salah karena orang itu tidak menaati aturan lalu lintas yang ada.
Tak lama kemudian lampu hijau pun menyala, ia mulai tancap gas perlahan-lahan.
“Teettt, teettt, teettt…..”
Kembali Argi terkagetkan. Tapi kali ini dengan suara klakson kendaraan yang berada di belakang.
“Uh, mengapa sih?, tak bisa sedikit sabarkah dia?” tanyanya dalam hati.
“Apa ibunya juga kambuh magh, atau ada yang harus ia lakukan segera di tempat tujuannya?”  sambungnya juga dalam hati.
Ia mencoba tenang dan sabar sambil tetap tancap gas, perlahan-lahan, dan mulai melaju perlahan.
***
Perjalanan Argi masih jauh, belum setengah dari jarak kantor dengan rumahnya. Belum lama ia melewati jembatan Tol Kapuas yang pertama dan perjalanannya kembali terhambat saat hendak melewati jembatan Tol Kapuas yang kedua, karena banyaknya kendaraan yang melintas dari arah yang berlawanan maupun yang searah dengannya.
Kemacetan cukup panjang ini membuat Argi termenung. Dengan raut wajah yang tampak risau, ia teringat dengan orang di lampu merah tadi.
“Dia bisa, mengapa aku tidak!” serunya dalam hati.
“Aku bisa segera pulang,” Argi mulai berfikiran negatif.
Perlahan-lahan ia menarik gas sepeda motornya menelusuri sela-sela kendaraan, berusaha untuk segera keluar dari kemacetan.
Usahanya berhasil, sekarang ia berada di depan dan lebih dahulu terlepas dari kemacetan dari pada kendaraan yang berada di dekatnya di belakang, tadi.
***
Jembatan Tol Kapuas yang kedua pun telah ia lewati. Untuk kesekian kalinya, ia harus mengendurkan gas sepeda motornya dan berhenti, karena lampu merah kembali menyala, perempatan jalan lagi.
Argi berada cukup jauh dibelakang.
“Aku bisa,” ucapnya pelan.
Argi melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya, yakni menelusuri sela-sela kendaraan. Ini tak lain, agar ia bisa segera sampai ke rumah.
“Teeettt, teeettt, teeettt…”
Klakson kendaraan didekatnya berbunyi berulang-ulang. Teriakkan pun tak sedikit ia dapatkan dari orang-orang yang berhasil ia lewati.
“Sabar lah…”, “Antri…”, “Tertib…”
Entah apa yang merasuki pikirannya.
***
Lampu hijau pun menyala. Ia masih berada di tengah-tengah kepadatan kendaraan.
Perlahan-lahan ia bergerak ke depan. Namun, lampu hijau tinggal 5 detik menyala. Argi yang berada hanya satu kendaraan di belakang mencoba untuk berada di depan.
5, 4, 3, 2, 1…. Lampu merah kembali menyala.
“Bakalan lama ni,” fikirnya.
Ia yang terlanjur berada di depan langsung menarik cepat gas sepeda motornya.
“BRRRMMMMM…..” Argi melanggar lampu merah. Ia melaju, belok kanan dengan senyum di wajahnya.
Sedikit lagi ia akan melewati perempatan jalan, namun naas.
“AWWW,” Argi berteriak keras.
Sepeda motor yang dikendarainya bersenggolan dengan sepeda motor yang ukurannya lebih besar dari sepeda motornya. Sepeda motornya pun oleng, senget ke kiri.
“BrRoKk…” Argi menabrak trotoar dan terjatuh.
Celananya sobek dibagian lutut dan lutunya berdarah. Ia berusaha bangkit, namun tak bisa karena kaki kirinya tertimpa sepeda motornya.
Tampak olehnya seorang beseragam berlari kearahnya, menghampirinya.
“Polantas!!!” seunya dalam hati.
Wajah Argi berbagai ekspresi, malu, sakit, takut, bahkan senyum pun terpancar di wajahnya.
“Ayo, Dek!” Pak Polantas membantunya.
“I ii yya, Pak” Argi tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menuruti perintah Pak Polantas.
***
Kini Argi berada di Pos Polantas. Ia ditanya dengan berbagai pertanyaan.
Argi hanya bisa bicara jujur, sejujur-jujurnya. Ia mengaku bahwa ia bersalah dan ia berjanji untuk tidak melanggar peraturan lagi.
Hampir setengah jam ia ditanya-tanya. Sepertinya Pak Polantas tidak marah dan Argi pun diperbolehkan pulang.
“Terima kasih ya, Pak” ucap Argi sambil bersalaman kepada Pak Polantas.
“Iya. Lain kali hati-hati, ya?” ujar Pak Polantas.
“Ingat, lebih baik kehilangan satu menit dalam hidup, dari pada kehilangan hidup dalam satu menit,” lanjut Pak Polantas.
“Siap, Pak!” Argi hormat, senyum.
Pak Polantas membalas hormatnya. Ia langsung menyalakan sepeda motornya, dan BRrrrMmmm..., ia kembali ke jalan raya, syukur.
***
Kini Argi melaju tertib. Ia mentaati semua aturan lalu lintas. Bahkan dalam hatinya terlintas ucapan, “aku akan tertib disegala hal”.
“Semoga ini yang terakhir”
“Semoga tak ada yang sepertiku,”
“Seandainya semua bisa tertib, pasti bisa nyaman,”
“…”
“…”
Banyak ucapan yang terucap dari mulut Argi. Ia tak henti-hentinya memanjatkan doa, syukur atas keselamatan dari Allah, Tuhan YME, dan ia juga tak henti-hentinya berandai-andai,
semoga negeri ini bisa tertib dan orang negeri bisa lebih menertibkan negeri ini”.
***
Kurang lebih lima belas menit di perjalanan, Argi pun sampai di rumah sederhananya di Kota Baru, di Gang PGA nomor 18 F.
“Assalamu’alaikum,” ucap Argi.
Tak ada jawaban. Ia langsung membuka pintu, masuk dan menuju ke kamar ibunya.
“Bang Argi datang, Bu” Ita, adik Argi mengucap pelan.
“Ini obat ibu,” Argi memberikan obat itu kepada Ita.
Tak menunggu lama, Ita langsung meminumkannya kepada ibunya tercinta. Kini semua baik-baik saja. Ibunya mulai enakan.
“Abang gak apa-apa?” tanya Ita dengan heran, karena melihat Abangnya diperban dilengannya dan celananya sobek di bagian lutut.
“Iya. Kamu kenapa, Nak?” Ibunya juga bertanya.
“Begini…………………………………………………………..” Argi menjelaskan panjang lebar dari apa yang terjadi padanya di jalan.
Tak ada komentar berarti, yang jelas Argi menyadari dan berjanji untuk lebih tertib dan hati-hati.
Semua baik-baik saja. (*) #cerpen kalbar

(Maaf, jika sama tempat dan nama)